Studi Ungkap Fosil Prototaxites Sebagai Jamur Purba Raksasa Pencakar Langit

Nadhira Izzati A
15/4/2026 12:36
Studi Ungkap Fosil Prototaxites Sebagai Jamur Purba Raksasa Pencakar Langit
Prototaxites(Norther Rogue Studio)

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances mengungkapkan bahwa Prototaxites, organisme raksasa purba yang selama ini dianggap sebagai jamur raksasa, sebenarnya adalah cabang evolusi kehidupan yang telah punah sepenuhnya dan tidak memiliki kemiripan dengan makhluk hidup modern mana pun.

Sekitar 410 hingga 420 juta tahun yang lalu, jauh sebelum pepohonan mendominasi, daratan Bumi dihuni oleh struktur vertikal yang aneh. Organisme ini bisa tumbuh mencapai ketinggian 8 meter, menjadikannya makhluk darat tertinggi pada masanya, semacam gedung pencakar langit pertama di planet ini. 

Ketika fosilnya pertama kali ditemukan pada abad ke-19, para ilmuwan sempat mengira mereka sedang melihat sisa-sisa pohon yew purba, namun struktur internalnya terbukti jauh lebih kompleks dan membingungkan.

Bantahan Terhadap Teori Jamur Raksasa

Selama lebih dari satu abad, Prototaxites cenderung dikelompokkan sebagai jamur (fungi) oleh para ilmuwan. Namun, analisis geokimia terbaru terhadap fosil Prototaxites taiti dari situs Rhynie Chert di Skotlandia mematahkan anggapan tersebut. 

Seán Jordan, salah satu penulis studi tersebut, menyatakan bahwa raksasa Devonian yang aneh ini tampaknya termasuk dalam kelompok eukariota yang sudah tidak ada lagi. Menurutnya, pada satu titik dalam sejarah Bumi, seluruh garis keturunan kehidupan ini punah. 

“Mungkin di masa depan lebih banyak contoh dari kelompok ini akan ditemukan dalam catatan fosil, tetapi untuk saat ini Prototaxites adalah satu-satunya bukti bahwa kelompok itu pernah ada,” tambahnya.

Perbedaan Struktur Jaringan Internal dengan Jamur

Ketika melakukan pemeriksaan spesimen bernama NSC.36 dengan mikroskopi pemindaian laser dan pencitraan 3D, para ilmuwan menemukan bahwa Prototaxites memiliki jaringan tabung yang sangat padat. Namun, pola percabangannya sangat berbeda dengan hifa jamur pada umumnya. 

Jika jamur memiliki pola percabangan yang teratur, Prototaxites menunjukkan pola tiga arah yang kompleks dan membentuk pusat-pusat padat yang disebut bintik meduler.

Alexander Hetherington, ahli paleobotani dari University of Edinburgh, mengatakan bahwa dalam buku-buku anatomi tentang jamur yang masih hidup, mereka tidak pernah menemukan struktur seperti itu. 

Ia menjelaskan bahwa struktur sistem tabung Prototaxites menunjukkan jenis sistem pertukaran biologis yang sama dengan kapiler darah dan paru-paru, yang terdiri dari tabung-tabung yang diatur secara strategis untuk mentransfer sumber daya secara efisien di dalam organisme hidup. 

“Hingga saat ini, tidak ada jamur yang diketahui mampu menciptakan jaringan dengan cara seperti itu,” ungkap Hetherington.

Unsur Kimiawi yang Berbeda

Jamur secara alami memproduksi chitin pada dinding selnya, sebuah zat yang biasanya bertahan dalam proses fosilisasi. Namun, saat para peneliti membandingkan profil kimia Prototaxites dengan fosil jamur, tanaman, dan arthropoda di sekitarnya, mereka menemukan perbedaan yang mencolok.

Prototaxites sama sekali tidak mengandung chitin atau jejak pigmen perylene yang biasanya ditemukan pada kelompok jamur ascomycete. Dengan tingkat akurasi model statistik lebih dari 90 persen, tim peneliti berhasil membedakan Prototaxites dari semua taksa jamur yang dikenal. 

Hal ini memastikan bahwa meskipun Prototaxites mungkin hidup sebagai heterotrof yang memakan materi organik, ia tidak berasal dari garis keturunan jamur.

Penemuan ini menegaskan keunikan Prototaxites sebagai organisme multiseluler kompleks di awal sejarah planet kita. Meskipun begitu, para ilmuwan masih dibuat bingung oleh ukuran tubuhnya yang masif di tengah ekosistem yang masih sangat rendah. 

Bagaimana raksasa ini mendapatkan energi yang cukup untuk tumbuh menjulang? Bagi para peneliti, jawaban atas misteri tersebut masih belum terpecahkan.

Sumber: AOL, Dublin City University, Futura Sciences



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya