Hipotermia pada Anak Bisa Datang Cepat, IDAI Ingatkan Bahaya Bawa Batita ke Gunung

 Gana Buana
13/4/2026 20:35
Hipotermia pada Anak Bisa Datang Cepat, IDAI Ingatkan Bahaya Bawa Batita ke Gunung
IDAI mengingatkan anak, terutama batita, sangat rentan hipotermia saat mendaki.(Freepik)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua agar tidak menyamakan daya tahan anak dengan orang dewasa, terutama saat diajak beraktivitas di alam terbuka seperti pendakian gunung. Peringatan ini menguat setelah muncul kasus bayi 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat mendaki Gunung Ungaran, Semarang.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Yogi Prawira, menegaskan anak sangat rentan kehilangan panas tubuh dan cairan, terlebih saat terpapar pakaian basah serta cuaca dingin dalam waktu lama.

“Anak itu bukan dewasa kecil. Jangan pernah menganggap daya tahan anak sama dengan orang dewasa, apalagi saat dibawa ke gunung,” kata Yogi dilansir dari Antara, Senin (13/4).

Menurut dia, bayi dan anak usia di bawah tiga tahun termasuk kelompok yang paling mudah mengalami hipotermia. Salah satu pemicu utamanya ialah pakaian basah yang dibiarkan menempel terlalu lama di tubuh, sehingga panas tubuh cepat hilang.

Saat anak menunjukkan tanda hipotermia, langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera melepas pakaian basah lalu mengeringkan tubuh anak. Setelah itu, orang tua dianjurkan melakukan kontak kulit ke kulit atau skin to skin dalam kondisi tubuh sama-sama kering agar suhu anak naik secara bertahap.

Teknik ini, kata Yogi, mirip dengan metode Kangaroo Mother Care yang lazim diterapkan pada bayi prematur. Setelah kontak kulit dilakukan, bagian luar tubuh anak perlu ditutup menggunakan kain atau selimut kering untuk mencegah kehilangan panas lebih lanjut. Penggunaan aluminium foil juga dapat membantu menahan panas tubuh.

Selain menjaga suhu tubuh, orang tua juga diminta memastikan anak tidak mengalami dehidrasi. Kondisi kekurangan cairan dapat memperburuk keadaan saat anak terpapar suhu dingin.

Yogi menilai orang tua yang ingin mengenalkan anak pada aktivitas alam sebaiknya memulai secara bertahap. Pendakian berat tidak boleh menjadi langkah awal, apalagi pada anak usia sangat kecil. Ia menyarankan kegiatan ringan seperti hiking di jalur aman dan mudah dijangkau jika sewaktu-waktu dibutuhkan evakuasi.

“Jangan langsung naik gunung yang tinggi. Mulai dari hiking ringan, lalu lihat kemampuan anak secara bertahap,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menyayangkan insiden hipotermia yang menimpa anak 1,5 tahun di Semarang. Ia menekankan bahwa keselamatan anak harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap aktivitas luar ruang.

Menurut Piprim, membawa batita ke gunung menyimpan banyak risiko, mulai dari paparan hujan, suhu dingin ekstrem, pakaian basah, hingga kelelahan fisik. Karena itu, orang tua harus mempertimbangkan secara matang kesiapan anak, perlengkapan, serta medan yang akan ditempuh.

“Menurut saya, batita tidak direkomendasikan dibawa naik gunung dengan risiko kehujanan, basah kuyup, atau kepanasan,” kata Piprim.

Sebelumnya, bayi perempuan berusia 1,5 tahun dilaporkan mengalami hipotermia saat ikut mendaki Gunung Ungaran pada Sabtu, 11 April 2026. Diduga, kondisi itu dipicu perubahan cuaca ekstrem yang mendadak di jalur pendakian.

Dalam video yang diunggah akun YouTube @basarnasofficial pada Minggu, 12 April 2026, tim evakuasi menyebut suhu tubuh bayi turun drastis dalam kondisi kritis. Bayi tersebut terus menangis dan menunjukkan gejala kedinginan berat. Setelah dievakuasi dan mendapat penanganan dari tim SAR, kondisinya dilaporkan berangsur membaik. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya