Fenomena Sleep Training pada Bayi: IDAI Ingatkan Orangtua Jangan "FOMO" dan Harus Waspada*

Media Indonesia
13/4/2026 18:16
Fenomena Sleep Training pada Bayi: IDAI Ingatkan Orangtua Jangan
Ilustrasi(Dok Freepik)

MEDIA sosial diramaikan oleh kasus tragis bayi berusia empat bulan yang meninggal dunia saat menjalani proses sleep training. Menanggapi fenomena ini, para pakar dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan edukasi mendalam mengenai bahaya gangguan tidur (sleep disorder), risiko Sudden Infant Death Syndrome (SIDS), hingga etika melakukan sleep training yang aman.

Waspada SIDS dan Bahaya di Sekitar Tempat Tidur Bayi

Gangguan tidur pada bayi sering kali tidak terdeteksi hingga terjadi insiden fatal. Salah satu yang paling ditakuti adalah SIDS atau sindrom kematian bayi mendadak, yang sering kali berkaitan dengan terhambatnya saluran napas saat tidur.

"Gangguan sleep disorder itu pada anak-anak memang tidak semua mengalami seperti itu ya. Jadi ada kasus-kasus tertentu, kadang-kadang tidak diketahui sampai terjadi kecelakaannya," ujar Ketua IDAI DKI Jakarta, Rismala Dewi, dalam sesi media briefing di kawasan Sudirman, DKI Jakarta, Senin, (13/4).

Dirinya menekankan agar orang tua waspada terhadap faktor-faktor seperti hindari bayi tidur bersama orang dewasa yang jauh lebih besar karena risiko tertindih. Selain itu bayi yang belum bisa mengangkat kepala atau mengontrol leher secara stabil sangat rentan jika dibiarkan tidur dalam posisi yang menghambat napas tanpa pengawasan.

Mengapa Sleep Training Bisa Berujung Fatal?

Kasus bayi meninggal setelah menangis selama dua jam saat sleep training menjadi pelajaran berharga. Pakar kesehatan menekankan bahwa menangis adalah satu-satunya cara bayi berkomunikasi jika merasa tidak nyaman, lapar, atau sakit.

Dr. Tuty Rahayu dari Unit Kerja Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI JAYA menjelaskan bahwa gangguan saluran napas bisa terjadi karena hal-hal sepele.

"Gangguan saluran napas (terjadi) entah itu tertutup oleh selimut, atau tempat tidurnya terlalu empuk akhirnya dia meleset, atau ada gangguan misalnya amandelnya besar.”

Terkait posisi tengkurap yang sering diterapkan dalam sleep training, IDAI memberikan batasan tegas.

"Paling aman sebenarnya usia di atas 6 bulan meninggalkan anak untuk posisi tidur tengkurap, tapi 6 bulan dengan syarat dia sudah berguling, berarti kepalanya sudah bagus," lanjut Dr. Tuty.

“Jangan FOMO” dan Pantau Secara Ketat

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, mengingatkan para orang tua agar tidak sekadar mengikuti tren atau "FOMO" (Fear of Missing Out) terhadap gaya asuh selebritas di media sosial.

"Untuk sleep training ini, saya kira jangan suka FOMO ya. Tidak ada satu cara tidur yang sama untuk semua anak, setiap anak berbeda-beda," tegas Piprim.

Dirinya memberikan beberapa catatan penting bagi orang tua sebelum memutuskan untuk memulai sleep training. Piprim menegaskan bahwa prosedur ini tidak boleh dilakukan secara kaku atau strict, sehingga orang tua harus tetap fleksibel dalam memantau kondisi serta kenyamanan anak. 

Pengawasan ketat juga menjadi syarat mutlak, salah satunya dengan bantuan teknologi seperti CCTV agar kondisi bayi selalu terpantau. "Jangan sampai anaknya sleep training, ibunya asyik WA, asyik medsosan, TikTok-an, anaknya tidak terpantau sama sekali," tegasnya.

Selain itu, faktor kesehatan menjadi pertimbangan utama; hanya anak yang benar-benar sehat yang diperbolehkan menjalani latihan tidur mandiri. Bagi anak dengan kondisi medis tertentu atau malnutrisi, perhatian intensif termasuk pemberian susu di malam hari tetap harus diprioritaskan.

Para dokter berpesan bahwa tujuan sleep training adalah periode transisi menuju kemandirian, namun nyawa dan kenyamanan bayi tetap merupakan prioritas yang tidak bisa ditawar. Orangtua harus tahu kapan teknik ini harus dihentikan jika anak menunjukkan tanda-tanda stres atau gangguan napas. (Nadhira Izzati A/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya