Bayi Hipotermia di Gunung Ungaran: IDAI Ingatkan Anak Bukan 'Dewasa Kecil

Media Indonesia
13/4/2026 18:11
Bayi Hipotermia di Gunung Ungaran: IDAI Ingatkan Anak Bukan 'Dewasa Kecil
Kiri ke kanan: DR. Dr. Yogi Prawira; DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso; dan Prof. DR. Dr. Rismala Dewi dalam media briefing IDAI di kawasan Sudirman, DKI Jakarta, Senin, (13/4/2026).(Dok MI)

KASUS bayi berusia 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat diajak mendaki Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, oleh orangtuanya mendapat sorotan tajam dari para pakar kesehatan anak. 

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), saat acara media briefing di kawasan Sudirman, DKI Jakarta (13/04), memberikan peringatan keras bahwa membawa balita ke alam bebas yang ekstrem memerlukan persiapan matang dan harus mempertimbangan keamanan.

Anak-anak, khususnya batita (bawah tiga tahun), memiliki mekanisme pengaturan suhu tubuh yang belum sempurna jika dibandingkan dengan orang dewasa. Luas permukaan tubuh mereka terhadap berat badan membuat mereka lebih cepat kehilangan panas.

"Anak sangat mudah kehilangan panas dibanding dewasa ya. Apalagi kalau naik gunungnya jaraknya jauh ya. Ada potensi hujan. Kemudian evakuasinya juga lama ya. Ini tentu hal-hal yang harus dipikirkan sebelumnya," ujar Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso.

Bagi orangtua yang ingin mengenalkan aktivitas luar ruangan kepada anak, para dokter menyarankan pendekatan yang bertahap. Pilihlah medan yang memiliki akses evakuasi mudah dan cuaca yang tidak ekstrem.

"Kalaupun mau ke alam, ya jangan yang ekstrim seperti gunung yang tinggi. Mungkin sekadar hiking ringan, tapi mudah diakses untuk evakuasi ya. Cuacanya juga dipertimbangkan dengan baik, supaya jangan ekstrem," tambah Piprim.

Meskipun tidak ada aturan kaku mengenai usia minimal pendakian, anak di bawah usia 5 tahun, terutama di bawah 3 tahun, berada pada kelompok paling rentan.

"Tapi pasti di bawah 5 tahun, di bawah 3 tahun itu sangat rentan. Jadi yang perlu adalah tahapannya itu seperti apa. Jadi nggak ada umur khusus sebenarnya ya, boleh umur berapa gitu. Tapi yang harus kita tahu, di bawah 3 tahun itu memang sangat rentan," jelas Ketua IDAI DKI Jakarta Rismala Dewi.

Kondisi akan menjadi jauh lebih berisiko jika anak memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti asma. Udara dingin di gunung dapat memicu serangan yang membahayakan nyawa. "Kalau misalnya anaknya yang normal saja, kita perlu persiapan khusus, apalagi kalau ini kan ada comorbid ya," kata ismala.

Tindakan Darurat saat Anak Mengalami Hipotermia

Jika situasi darurat terjadi di tengah hutan atau gunung di mana akses medis tidak tersedia, orangtua harus mengetahui teknik survival dasar. Salah satu cara tercepat untuk menghangatkan suhu tubuh anak adalah melalui metode skin-to-skin.

"Apa yang bisa dikerjakan? Bisa skin to skin, dibuka bajunya, tempelin kulit ke kulit gitu. Baru di luarnya, baru pakai baju. Pastikan kering semua gitu misalnya," jelas Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI Yogi Prawira.

Ia juga menekankan bahwa orangtua tidak boleh menyamakan daya tahan fisik mereka dengan anak. Menurutnya, anak memiliki frekuensi napas yang lebih banyak, yang secara tidak langsung mempercepat hilangnya cairan dan panas tubuh.

"Jadi secara prinsip kan, anak itu bukan dewasa kecil. Jadi jangan orangtua berasumsi anak itu sama tahan dengan dia. Apalagi kalau orangtua bawa anak naik gunung, asumsinya orangtuanya dalah 'anak gunung'," tegas Yogi.

Yogi menyarankan prinsip "start low, go slow (memulai dari titik rendah dan perlahan)," sebagai panduan. Orangtua harus memantau kemampuan anak setiap minggu dan memastikan kebutuhan cairan atau hidrasi anak selalu terpenuhi selama perjalanan.

IDAI menyimpulkan bahwa jika persiapan tidak bisa dipenuhi secara maksimal, terutama terkait pakaian berlapis yang anti-air dan rencana evakuasi, sebaiknya rencana mendaki gunung bersama balita ditunda demi keselamatan nyawa anak. (Nadhira izzati A/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya