Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TARANTULA sering kali dianggap sebagai predator yang bergerak lambat, sunyi, dan hanya mengandalkan insting liar. Namun, penelitian terbaru mematahkan stigma tersebut. Laba-laba raksasa ini ternyata memiliki kemampuan kognitif yang mengejutkan: mereka mampu belajar, mengingat rute, dan membuat keputusan strategis saat menjelajahi lingkungannya.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Ecology and Evolution ini mengubah cara pandang ilmuwan terhadap kecerdasan arachnida. Riset dari University of Turku menunjukkan bahwa tarantula memiliki kemampuan orientasi spasial yang mumpuni, baik pada spesies yang hidup di pepohonan maupun yang tinggal di dalam tanah.
Navigasi Canggih dan Memori Berburu
Banyak tarantula diketahui melakukan perjalanan ke lokasi spesifik untuk berburu dan mampu kembali ke sarang tanpa tersesat. Kemampuan navigasi ini mengandalkan perpaduan dua jenis informasi, sinyal internal dari gerakan tubuh (jarak dan arah) serta sinyal eksternal dari lingkungan, seperti cahaya, getaran, hingga jejak kimia.
Fenomena ini terlihat jelas pada tarantula penghuni pohon yang berburu di malam hari. Mereka sering mengikuti rute rutin menuju sumber cahaya yang menarik mangsa. Dalam satu observasi, seekor tarantula mampu melewati balok kayu, berbelok pada sudut yang tepat, dan mencapai titik makan secara konsisten. Jalur yang berulang ini menjadi bukti nyata adanya daya ingat lokasi dan rute.
Tarantula juga menunjukkan fleksibilitas perilaku yang tinggi. Spesies yang biasanya tinggal di lubang tanah tak segan memanjat pohon saat musim kering atau banjir demi mencari makan dan keselamatan. Perubahan perilaku berdasarkan kondisi lingkungan ini menunjukkan bahwa tarantula tidak hanya mengandalkan kebiasaan kaku, melainkan mampu menyesuaikan tindakan berdasarkan pengalaman masa lalu.
Alireza Zamani, penulis utama studi ini, menjelaskan sistem saraf tarantula jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya.
"Studi sebelumnya telah menunjukkan tarantula dapat belajar untuk menghindari rangsangan yang tidak menyenangkan, menavigasi labirin yang rumit, dan mengingat lokasi spasial dari waktu ke waktu," ujar Alireza Zamani. Ia menambahkan, "Kemampuan ini menunjukkan sistem saraf mereka mendukung perilaku yang lebih fleksibel daripada yang diasumsikan secara tradisional."
Eksperimen di laboratorium memperkuat temuan ini. Dalam tes labirin, tarantula terbukti mampu belajar menghindari panas atau cahaya terang. Seiring berjalannya waktu, mereka melakukan lebih sedikit kesalahan dan mencapai tujuan dengan lebih cepat, tanda jelas dari proses belajar dan memori.
Selain itu, tarantula memanfaatkan indra mereka secara maksimal. Mereka meninggalkan jejak sutra sebagai pemandu jalan pulang dan menggunakan sinyal kimia untuk menentukan lokasi perburuan yang paling potensial.
Meskipun temuan ini sangat signifikan, para peneliti tetap berhati-hati. Zamani mencatat bahwa studi tentang pembelajaran laba-laba, khususnya tarantula, masih relatif baru.
"Secara keseluruhan, studi tentang pembelajaran laba-laba masih relatif baru, terutama untuk tarantula. Observasi lapangan yang dikombinasikan dengan eksperimen terkontrol akan menjadi penting untuk memahami bagaimana isyarat sensorik, memori, dan pengalaman berinteraksi untuk membantu laba-laba ini bernavigasi dan mencari mangsa," tutup Zamani.
Riset ini membuktikan bahwa tarantula bukanlah sekadar pemburu sederhana, melainkan makhluk yang mampu beradaptasi secara strategis demi kelangsungan hidupnya. (Earth/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved