Ibu Hamil Kurang Tidur Berisiko Anak Alami Keterlambatan Perkembangan

M Iqbal Al Machmudi
12/4/2026 08:23
Ibu Hamil Kurang Tidur Berisiko Anak Alami Keterlambatan Perkembangan
Ilustrasi.(Freepik)

PEREMPUAN hamil yang kurang tidur mungkin berisiko lebih tinggi melahirkan anak dengan keterlambatan perkembangan saraf. Temuan tersebut berdasarkan penelitian dari Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism.

Short Sleep Duration (SSD) didefinisikan sebagai tidur kurang dari tujuh jam per malam. Perempuan hamil mungkin mengalami kesulitan tidur karena perubahan hormonal, ketidaknyamanan kehamilan, sering buang air kecil, dan faktor lain.  

Berdasarkan laman Endocrine Society hampir 40% perempuan hamil mengalami SSD. Kelompok tersebut mungkin memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan toleransi glukosa, resistensi insulin, dan diabetes gestasional, dan anak-anak mereka mungkin berisiko lebih tinggi mengalami keterlambatan perkembangan saraf. 

Anak-anak ini lebih lambat dalam mengembangkan keterampilan sosial, emosional, perilaku, motorik, kognitif, atau bicara mereka. "Meningkatkan kebiasaan tidur selama kehamilan dapat mencegah atau mengurangi risiko masalah perkembangan saraf pada anak," kata penulis utama penelitin Peng Zhu dikutip dari laman Endocrine Society, Minggu (12/4).

Para peneliti menganalisis data tidur dari 7.059 pasangan ibu-anak dari 3 rumah sakit berbeda di Tiongkok. Mereka melakukan skrining terhadap anak-anak untuk mengetahui ada keterlambatan perkembangan dari usia 6 bulan hingga 3 tahun dan menganalisis hubungan antara durasi tidur ibu dan risiko keterlambatan perkembangan saraf. 

Mereka juga mengevaluasi peran kadar C-peptida serum darah tali pusat, yang merupakan indikator stabil sekresi insulin janin. 

Studi tersebut menemukan, kurang tidur selama kehamilan dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah perkembangan saraf pada anak, yang memengaruhi kemampuan kognitif, perkembangan perilaku, dan kemampuan belajar mereka.

Anak laki-laki tampaknya memiliki risiko lebih tinggi mengalami keterlambatan perkembangan saraf ketika ibu mereka mengalami SSD (Sexual Disability Disorder) selama kehamilan. Ini menunjukkan bahwa jenis kelamin memainkan peran penting dalam respons anak terhadap faktor lingkungan prenatal.

SSD selama kehamilan dapat memengaruhi metabolisme glukosa ibu, sehingga memengaruhi lingkungan perkembangan janin.

Mungkin ada korelasi positif antara kadar C-peptida dalam darah tali pusat dan keterlambatan perkembangan saraf pada keturunan. Ini menunjukkan bahwa metabolisme glukosa ibu selama kehamilan dapat memengaruhi sekresi insulin janin. Akibatnya, perkembangan saraf mereka.  

"Kesehatan prenatal penting bukan hanya untuk ibu hamil tetapi juga untuk kesehatan jangka panjang janin," ujar Zhu yang berasal dari Universitas Kedokteran Anhui dan Laboratorium Utama Kesehatan Populasi Lintas Siklus Kehidupan Kementerian Pendidikan di Hefei, Tiongkok. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya