Inovasi Layanan Kesehatan di Puskesmas Pajarakan Perkuat Deteksi TBC Anak dan Perbaikan Gizi Balita

Nadhira Izzati A
11/4/2026 22:55
Inovasi Layanan Kesehatan di Puskesmas Pajarakan Perkuat Deteksi TBC Anak dan Perbaikan Gizi Balita
Ilustrasi(Doc Puskesmas Pajarakan)

MASALAH gizi kurang pada balita sering kali menjadi fenomena "gunung es" yang menyembunyikan penyakit penyerta, salah satunya Tuberkulosis (TBC). Menjawab tantangan tersebut, UPT Puskesmas Pajarakan menghadirkan inovasi layanan kesehatan bertajuk GITA CEKATAN (Gizi Balita Kurang, Tanggap Cek TBC Anak). 

Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan deteksi kasus TBC anak sekaligus memperbaiki status gizi balita secara signifikan di wilayah Kabupaten Probolinggo.

GITA CEKATAN merupakan pendekatan terintegrasi yang menggabungkan pemantauan status gizi dengan skrining TBC. Langkah ini bertujuan memastikan balita dengan kondisi gizi kurang atau gizi buruk mendapatkan penanganan yang cepat, tepat, dan menyeluruh.

Dalam pelaksanaan skrining terbaru pada Jumat (10/4), sebanyak 41 balita menjadi sasaran pemeriksaan. Mereka terdiri dari balita dengan kategori gizi kurang, gizi buruk, serta balita yang berat badannya stagnan atau menurun selama dua bulan berturut-turut.

Skrining dilakukan secara terpadu oleh Pelaksana Program TBC, Sumiyati, dan Pelaksana Program Gizi, Ika Melinatini, sebagai bagian dari percepatan eliminasi TBC tahun 2030 serta upaya penanganan stunting.

Kepala Puskesmas Pajarakan, dr. Maulida Rachmani, mengimbau para orang tua untuk lebih peka terhadap grafik pertumbuhan anak.

“Segera lakukan skrining ke puskesmas, khususnya skrining TBC agar jika terdeteksi bisa segera ditangani dan kondisi anak dapat kembali normal,” ungkap dr. Maulida.

Penemuan Kasus Meningkat Drastis

Program yang telah berjalan rutin sejak tahun 2025 ini menunjukkan data yang impresif. Pelaksana Program TBC Puskesmas Pajarakan, Sumiyati, mengungkapkan bahwa GITA CEKATAN menjadi langkah strategis untuk menyasar balita berisiko tinggi secara tepat sasaran.

“Ini langkah strategis untuk percepatan eliminasi TBC 2030 sekaligus penanganan stunting. Kami menyasar balita berisiko agar intervensi bisa tepat sasaran,” kata Sumiyati.

Berdasarkan data tahun 2025, capaian penemuan kasus TBC anak berhasil melampaui target nasional. Dari target 18 kasus, tim berhasil menemukan 19 kasus atau mencapai 106 persen. Angka ini meningkat sangat drastis dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencapai 7 kasus atau 41 persen dari target.

Keberhasilan ini juga dibarengi dengan perbaikan fisik pasien. Seluruh balita TBC yang ditangani menunjukkan kenaikan berat badan minimal 10 persen dari berat awal, bahkan sebagian besar telah kembali ke status gizi normal.

“Deteksi dini sangat penting. Semakin cepat ditemukan penyebabnya, maka penanganan akan lebih mudah dan hasilnya lebih optimal,” tambah Sumiyati.

Alur Layanan GITA CEKATAN

Untuk mencapai target penemuan kasus 100% dan peningkatan berat badan balita, Puskesmas Pajarakan menerapkan lima tahapan layanan utama:

  1. Identifikasi Sasaran: Penemuan balita gizi kurang dan gizi buruk melalui Posyandu, kunjungan rumah, dan pelayanan rutin di Puskesmas.
  2. Skrining Awal: Penilaian status gizi (BB/TB/IMT) serta wawancara riwayat kesehatan (batuk, demam, kontak erat TBC, dll).
  3. Diagnosis: Pemeriksaan penunjang TBC anak dan penetapan diagnosa oleh tenaga medis.
  4. Penatalaksanaan Terintegrasi: Pemberian obat TBC sesuai pedoman dibarengi intervensi gizi oleh ahli diet.
  5. Pemantauan Berkala: Monitoring kepatuhan minum obat TBC dan evaluasi rutin kenaikan berat badan serta status gizi.

Sumber: Instagram/puskesmas_pajarakan, probolinggokab.go.id



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya