Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK ibu hamil menganggap kurang tidur di malam hari sebagai hal wajar. Perut yang makin besar, perubahan hormon, sampai frekuensi buang air kecil yang meningkat memang bikin tidur jadi tidak nyenyak. Kebiasaan ini bukan sekadar gangguan ringan, dampaknya bisa berlanjut ke perkembangan anak setelah lahir.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menyoroti satu kebiasaan yang sering terjadi, tidur kurang dari tujuh jam per malam selama kehamilan. Kondisi ini dikenal sebagai short sleep duration dan dialami oleh sekitar 40 persen ibu hamil.
Studi tersebut menganalisis lebih dari 7.000 pasangan ibu dan anak. Hasilnya cukup jelas. Anak yang lahir dari ibu dengan pola tidur kurang selama kehamilan memiliki risiko lebih tinggi mengalami keterlambatan perkembangan.
Bukan hanya soal fisik, dampaknya menyentuh beberapa aspek penting sekaligus. Mulai dari kemampuan motorik yang lebih lambat, kesulitan dalam interaksi sosial, hingga perkembangan kognitif dan bahasa yang tidak optimal.
Artinya, efek dari kurang tidur ini tidak berhenti saat bayi lahir, tapi bisa berlanjut ke masa tumbuh kembang awal anak.
Peneliti menjelaskan bahwa kurang tidur saat hamil memicu gangguan metabolisme dalam tubuh ibu. Kondisi ini berkaitan dengan resistensi insulin dan peningkatan risiko diabetes gestasional.
Masalah metabolik ini kemudian memengaruhi lingkungan dalam kandungan. Janin tidak hanya menerima nutrisi, tapi juga terpapar kondisi hormonal dan metabolik ibu. Perubahan ini dapat memengaruhi perkembangan sistem saraf dan otak sejak dini.
Salah satu indikator yang ditemukan adalah perubahan kadar C-peptida dalam darah tali pusat, yang berkaitan dengan produksi insulin janin dan perkembangan neurologisnya.
Temuan lain yang cukup menarik, dampak kurang tidur selama kehamilan cenderung lebih terlihat pada anak laki-laki dibandingkan perempuan. Meski alasannya masih terus diteliti, hal ini menunjukkan bahwa faktor biologis juga ikut berperan dalam respons terhadap kondisi selama kehamilan.
Gangguan tidur selama kehamilan memang umum terjadi. Bahkan, sebagian besar ibu hamil mengalaminya di berbagai trimester. Namun, fakta bahwa dampaknya bisa memengaruhi perkembangan anak membuat kebiasaan ini tidak bisa lagi dianggap sepele.
Menjaga kualitas dan durasi tidur selama kehamilan bukan sekadar soal kenyamanan, tapi bagian penting dari investasi kesehatan anak ke depan.
Tidur bukan cuma kebutuhan ibu, tapi juga bagian dari proses pembentukan kualitas tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved