Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KANTOR Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DKI Jakarta menyoroti persoalan klasik yang terus membayangi keberangkatan calon haji Indonesia ke Arab Saudi. Mulai dari barang bawaan berlebihan, pelanggaran aturan membawa rokok, hingga penggunaan visa yang tidak tepat, seluruhnya dinilai menjadi pemicu utama tersendatnya proses keberangkatan di bandara.
Kepala Bidang Pelayanan Haji dan Fasilitasi Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Sapta Putri, mengatakan edukasi sebenarnya telah berulang kali diberikan kepada jemaah melalui manasik haji. Namun di lapangan, masih banyak calon haji yang membawa barang-barang yang justru berisiko menahan laju pemeriksaan.
“Sudah disampaikan lewat manasik agar tidak membawa barang berlebihan. Tetapi masih ada yang membawa kompor, beras, pisau, dan barang lain yang akhirnya tertahan di bandara. Ini jelas memperlambat proses,” ujar Sapta dilansir dari Antara, Kamis (9/4).
Menurut dia, barang seperti kompor, gunting, setrika, dan perlengkapan serupa sebetulnya tidak perlu dibawa jemaah dari Tanah Air. Selain membuat bagasi bermasalah, barang-barang tersebut juga berpotensi memicu pemeriksaan tambahan yang berujung pada antrean panjang.
Tak hanya itu, rokok juga disebut menjadi salah satu sumber persoalan yang paling sering berulang. Meski ketentuan batas maksimal sudah berkali-kali disosialisasikan, masih ditemukan jemaah yang membawa rokok melebihi aturan, bahkan kerap dititipkan kepada anggota rombongan lain.
“Rokok maksimal dua slop, tetapi masih sering berlebihan. Kadang dititipkan juga kepada yang lain, termasuk jemaah perempuan,” kata Sapta.
Belajar dari pengalaman musim haji 2025, Kemenag DKI juga menilai persoalan kesehatan jemaah menjadi titik rawan lain yang tak bisa diabaikan. Calon haji dengan kondisi medis berat yang tetap dipaksakan berangkat disebut ikut memicu penumpukan di bandara dan memperumit proses layanan.
Untuk menekan hambatan serupa pada musim haji 2026, Kemenag DKI menyiapkan sejumlah langkah antisipatif. Strateginya mencakup penguatan edukasi kepada jemaah, pengawasan lebih ketat terhadap barang bawaan dan makanan, peningkatan koordinasi dengan maskapai, hingga penempatan petugas di titik-titik yang dianggap rawan.
Sapta menegaskan, mayoritas kebutuhan jemaah sejatinya telah tersedia di Tanah Suci sehingga tidak ada alasan untuk membawa terlalu banyak barang dari Indonesia. Bahkan untuk urusan oleh-oleh, pemerintah Arab Saudi bersama Kementerian Haji dan Umrah disebut telah menyiapkan skema tersendiri melalui dukungan pelaku UMKM.
“Semua kebutuhan ada di sana. Untuk oleh-oleh juga sudah ada skema yang disiapkan, termasuk produk UMKM seperti kurma dan makanan,” ujarnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Kesehatan Jamaah Haji Indonesia (Siskohatkes) per 6 April 2026, tercatat ada 13.837 nomor porsi calon haji di wilayah DKI Jakarta. Dari jumlah itu, 7.970 orang merupakan calon haji reguler, 5.645 orang calon haji khusus, 135 orang petugas, dan 87 orang masuk kategori kemungkinan calon haji tahun mendatang.
Secara demografi, calon haji DKI Jakarta didominasi kelompok usia 51-60 tahun yang mencapai 33%. Sementara jemaah berusia di atas 71 tahun tercatat sekitar 5%. Dari sisi gender, calon haji perempuan lebih banyak dengan jumlah 7.615 orang atau 56 persen, sedangkan laki-laki 6.000 orang atau 44%.
Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan keberangkatan haji bukan semata soal teknis perjalanan, melainkan juga kedisiplinan jemaah dalam mematuhi aturan. Tanpa pembenahan perilaku sejak sebelum berangkat, hambatan di pintu masuk menuju Tanah Suci berisiko terus berulang dari tahun ke tahun. (Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved