Mengenal Buta Warna: Penyebab, Faktor Genetik, dan Cara Deteksinya

Basuki Eka Purnama
08/4/2026 10:17
Mengenal Buta Warna: Penyebab, Faktor Genetik, dan Cara Deteksinya
Ilustrasi(Freepik)

PERNAHKAH Anda merasa kesulitan membedakan warna tertentu, seperti merah dan hijau? Kondisi ini bukan sekadar masalah penglihatan biasa, melainkan tanda adanya gangguan penglihatan warna yang secara medis dikenal sebagai discromatopsia atau buta warna.

Menariknya, banyak orang baru menyadari kondisi ini saat menjalani tes kesehatan formal, seperti untuk keperluan masuk sekolah, melamar pekerjaan, atau pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM). Padahal, gangguan ini umumnya bersifat bawaan sejak lahir.

Faktor Keturunan dan Peran Kromosom X

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Drasthya Zarisha, menjelaskan bahwa mayoritas kasus gangguan penglihatan warna bersifat kongenital atau bawaan. Hal ini disebabkan oleh kelainan pada sel kerucut di retina yang berfungsi menangkap dan membedakan spektrum warna.

Secara genetik, buta warna berkaitan erat dengan gen resesif pada kromosom X. Inilah alasan mengapa pola penurunannya tergolong unik:

  • Peran Ibu: Ibu sering kali menjadi carrier (pembawa gen). Jika ibu membawa gen tersebut, anak laki-laki memiliki risiko lebih tinggi karena hanya membutuhkan satu kromosom X yang terdampak.
  • Anak Perempuan: Membutuhkan dua kromosom X yang terdampak untuk benar-benar mengalami buta warna.
  • Peran Ayah: Seorang ayah yang buta warna tidak otomatis menurunkan kondisi tersebut kepada anak laki-lakinya, karena anak laki-laki menerima kromosom Y dari ayah dan kromosom X dari ibu.

Klasifikasi dan Metode Deteksi

Untuk membedakan jenis gangguan yang dialami, dr. Drasthya membaginya ke dalam dua kategori utama, yaitu buta warna total dan parsial. Berikut adalah perbandingannya:

Jenis Buta Warna Karakteristik Penglihatan Dampak Tambahan
Total (Akromatopsia) Hanya melihat nuansa abu-abu; sel kerucut tidak berfungsi. Ketajaman penglihatan menurun (ringan hingga berat).
Parsial Gangguan hanya pada sebagian spektrum warna (misal: merah-hijau). Umumnya ketajaman penglihatan tetap normal.

Untuk mendeteksi kondisi ini, metode yang paling umum digunakan adalah Buku Ishihara. Tes ini menggunakan lempeng warna pseudoisokromatis untuk menguji kemampuan mata dalam membedakan warna. Jika ingin mengetahui lebih dalam mengenai keterlibatan genetik, pasien disarankan melakukan pemeriksaan genetik secara spesifik.

Adaptasi dan Penanganan

Hingga saat ini, belum ada metode medis yang dapat mencegah atau menyembuhkan buta warna bawaan karena kerusakan terjadi pada "sensor warna" di retina sejak lahir. Namun, dr. Drasthya menekankan bahwa penderita tetap bisa menjalani aktivitas normal dengan strategi adaptasi.

Beberapa cara adaptasi yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Menggunakan strategi membaca kode warna atau posisi (misalnya pada lampu lalu lintas).
  2. Pemberian label pada barang-barang tertentu.
  3. Memanfaatkan aplikasi ponsel pintar yang dirancang khusus untuk membantu identifikasi warna.

Berbeda dengan kasus bawaan, buta warna yang didapat (acquired) akibat penyakit tertentu masih memiliki kemungkinan untuk diperbaiki persepsi warnanya, asalkan penyebab utamanya dapat diobati secara medis. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya