IPMG Dorong Akses dan Ketersediaan Obat Inovatif bagi Pasien

Rahmatul Fajri
07/4/2026 16:22
IPMG Dorong Akses dan Ketersediaan Obat Inovatif bagi Pasien
Ilustrasi(Dok Istimewa)

ASOSIASI perusahaan farmasi multinasional berbasis riset, International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG), resmi mengumumkan susunan Dewan Pengurus periode 2026–2028. Dalam pengumuman tersebut, Evie Yulin (Presiden Direktur Merck Indonesia) kembali dipercaya menjabat sebagai Ketua IPMG, didampingi George Stylianou (Presiden Direktur MSD Indonesia) sebagai Wakil Ketua.

Kepemimpinan duet ini diharapkan dapat memperkuat visi asosiasi yang mewakili 25 perusahaan farmasi global dalam mendorong akses kesehatan yang lebih luas bagi pasien di Indonesia.

Ketua IPMG terpilih, Evie Yulin, mengungkapkan bahwa fokus utama kepengurusannya adalah menjembatani kesenjangan akses obat-obatan inovatif. Ia menyoroti data bahwa saat ini ketersediaan obat inovatif di tanah air masih sangat minim.

“Saat ini, hanya sekitar 9% obat inovatif yang tersedia di Indonesia dan hanya sekitar 2% yang dapat diakses melalui pembiayaan publik. Menjembatani kesenjangan ini tetap menjadi prioritas utama IPMG,” ujar Evie melalui keterangan resminya, Selasa (7/4/2026).

Evie menekankan pentingnya kolaborasi kuat dengan pemerintah untuk memastikan lebih banyak pasien menerima manfaat pengobatan terbaru, sekaligus mendukung visi Indonesia Emas 2045. IPMG berkomitmen mendorong terciptanya lingkungan kebijakan yang transparan dan dapat diprediksi.

Beberapa poin strategis yang akan dikawal pengurus baru meliputi penguatan implementasi Penilaian Teknologi Kesehatan (PTK), pengembangan mekanisme harga dan pengadaan yang berkelanjutan, serta penyelarasan jalur registrasi dengan pembiayaan pasien.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif IPMG, Ani Rahardjo, menyatakan kesiapan asosiasi untuk terus berperan konstruktif dalam dialog kebijakan nasional.

“Kami tetap terbuka untuk berkolaborasi guna membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh dan meningkatkan daya saing Indonesia,” tambah Ani.

Junjung Tinggi Etika Global

Selain aspek akses, IPMG menegaskan komitmennya dalam menjaga standar etika industri. Asosiasi ini mengadopsi Code of Practice dari International Federation of Pharmaceutical Manufacturers and Associations (IFPMA) sebagai panduan interaksi dengan tenaga kesehatan dan institusi medis.

Langkah ini diambil untuk menjamin integritas ekosistem kesehatan, mencegah praktik korupsi, serta melindungi kepentingan masyarakat luas.

Dewan Pengurus periode 2026-2028 ini diperkuat oleh para ahli di berbagai bidang, mulai dari regulasi, investasi kesehatan, hingga keselamatan pasien. Melalui susunan baru ini, IPMG ingin menegaskan pesan bahwa kesehatan bukanlah sekadar biaya, melainkan investasi strategis untuk mewujudkan bangsa yang produktif dan berdaya saing global. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya