Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK orang menganggap pola minum alkohol yang hanya dilakukan pada akhir pekan atau saat acara spesial sebagai hal yang terkendali. Namun, sebuah studi terbaru dari Keck Medicine of USC memberikan peringatan keras, satu hari saja melakukan heavy drinking dalam sebulan sudah cukup untuk merusak organ hati.
Temuan mengejutkan ini menunjukkan risiko kerusakan tetap ada, meskipun seseorang sangat jarang mengonsumsi alkohol di hari-hari lainnya. Tubuh ternyata tidak melihat "keseimbangan" yang diasumsikan manusia, bagi hati, beban mendadak adalah ancaman nyata.
Istilah heavy drinking tidak hanya merujuk pada mereka yang minum setiap hari. Istilah ini juga menggambarkan konsumsi alkohol dalam jumlah banyak dalam satu sesi. Bagi perempuan, batasnya adalah empat gelas atau lebih dalam sehari, sementara bagi pria adalah lima gelas atau lebih.
Analoginya seperti menuangkan seember air ke dalam pipa kecil sekaligus, pipa tersebut akan meluap. Begitu pula hati yang berfungsi sebagai sistem pembersihan tubuh. Saat alkohol masuk dalam jumlah besar sekaligus, hati akan kewalahan, memicu stres internal, dan perlahan membentuk jaringan parut yang menggantikan sel-sel sehat.
Kondisi ini menjadi jauh lebih berbahaya bagi orang yang sudah memiliki timbunan lemak di hati, atau yang secara medis disebut Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD). Kondisi ini umum dijumpai pada individu dengan kelebihan berat badan, diabetes, atau kolesterol tinggi.
Studi yang melibatkan lebih dari 8.000 orang dewasa ini menemukan bahwa penderita MASLD yang melakukan heavy drinking, meski hanya sekali sebulan, menghadapi risiko kerusakan hati yang jauh lebih tinggi. Alkohol memperburuk kondisi hati yang sebenarnya sudah "lelah" akibat penumpukan lemak.
Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology ini mengungkap fakta unik. Orang yang minum dalam jumlah besar dalam satu hari (minimal sekali sebulan) memiliki risiko tiga kali lipat lebih besar terkena kerusakan hati dibandingkan mereka yang mengonsumsi jumlah alkohol yang sama namun dibagi rata dalam seminggu.
"Studi ini adalah peringatan besar karena secara tradisional, dokter cenderung melihat jumlah total alkohol yang dikonsumsi, bukan cara konsumsinya, saat menentukan risiko pada hati," ujar Dr. Brian P. Lee, peneliti utama studi tersebut.
Dr. Lee menambahkan masyarakat perlu lebih waspada terhadap bahaya minum berat yang dilakukan sesekali. "Penelitian kami menunjukkan publik harus menghindari perilaku ini, bahkan jika mereka minum dalam jumlah sedang di sisa waktu lainnya."
Masalah hati terkait alkohol meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, beriringan dengan meningkatnya angka obesitas dan diabetes. Kombinasi ini menciptakan kondisi hati yang sangat sensitif terhadap alkohol.
Studi ini mengubah keyakinan umum mematuhi batas mingguan saja sudah cukup. Tubuh ternyata tidak melupakan "malam yang berat" tersebut. Dengan menyebarkan konsumsi alkohol atau menghindarinya dalam satu sesi besar, seseorang dapat secara signifikan melindungi fungsi hatinya dari kerusakan permanen. (Earth/Z-2)
Peneliti University at Buffalo menemukan minuman infus ganja efektif membantu orang mengurangi konsumsi alkohol hingga separuhnya.
Penelitian terbaru di jurnal BMJ Evidence Based Medicine mengungkap tidak ada tingkat aman konsumsi alkohol.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved