Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI Tim*, kelahiran putrinya pada 2018 setelah tiga tahun berjuang melalui proses bayi tabung (IVF) seharusnya menjadi momen paling bahagia. Namun, realita yang ia hadapi justru sebaliknya. Malam pertama di rumah terasa seperti mimpi buruk. Tim merasa tidak siap, cemas, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan sebagai seorang ayah.
"Saya mulai merasakan kecemasan luar biasa karena tidak tahu apa yang harus dilakukan... Saya sudah menginginkan ini sejak lama, tetapi sekarang saya tidak tahu bagaimana sebenarnya menjadi seorang ayah," ungkap Tim.
Kondisi diperparah ketika istrinya mengalami infeksi pascamelahirkan. Tim merasa bersalah, gagal, dan perlahan menarik diri. Apa yang dialami Tim bukanlah kasus tunggal.
Penelitian dalam Journal of Affective Disorders (2025) menunjukkan 1 dari 10 ayah terdeteksi mengalami depresi setelah kelahiran anak. Bahkan, studi terbaru terhadap satu juta ayah di Swedia (Maret 2026) mengungkapkan diagnosis depresi dan gangguan stres meningkat lebih dari 30% pada akhir tahun pertama usia anak.
Dr. Zishan Khan, psikiater dari Mindpath Health, menyebutkan adanya "kerentanan yang tertunda" pada ayah. Gejala depresi sering kali tidak muncul di bulan-bulan awal, melainkan menumpuk seiring dengan kurang tidur, tekanan finansial, dan perubahan hubungan yang memuncak di sekitar ulang tahun pertama anak.
Berbeda dengan ibu yang sering menunjukkan gejala menangis atau kecemasan yang berfokus pada bayi, depresi pada ayah sering kali muncul dalam bentuk yang berbeda.
"Ibu lebih sering menunjukkan tangisan dan kecemasan, sedangkan ayah yang depresi mungkin menunjukkan lekas marah, mati rasa secara emosional, atau 'menarik diri', yang sering disalahartikan sebagai ketidaktertarikan dan bukan gangguan suasana hati," jelas Dr. Khan.
Selain faktor psikososial, hormon juga berperan. Dr. Brett Biller dari Hackensack University Medical Center mencatat bahwa pria juga mengalami pergeseran hormonal selama periode perinatal, di mana kadar testosteron menurun sementara estrogen dan kortisol dapat meningkat.
Banyak pria merasa harus "menelan sendiri" masalah mereka demi menjaga keluarga. Padahal, depresi ayah yang tidak diobati berisiko merusak hubungan dan perkembangan emosional anak.
Dr. Ernesto Lira de la Rosa menekankan pentingnya keterbukaan. "Banyak ayah memulai dengan perasaan tertekan untuk 'tetap tegar' dan mendukung pasangan serta keluarga mereka. Di bulan-bulan awal, mereka mungkin mengesampingkan kebutuhan mereka sendiri."
Para ahli menyarankan beberapa langkah bagi ayah yang sedang berjuang:
Bagi Tim, pemulihan dimulai ketika ia berani mengonsumsi obat di bawah pengawasan medis dan berbicara dengan sesama ayah. "Berbagi pengalaman itu penting, dan jujur saja, itu membuat saya merasa bahwa tidak apa-apa memiliki perasaan seperti itu," pungkasnya. (Parents/Z-2)
Jika depresi pada umumnya identik dengan kesedihan dan tangisan, pada pria gejalanya sering muncul dalam bentuk kemarahan, gampang tersinggung, hingga perilaku agresif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved