Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI ruang-ruang seminar Yale University, Amanda (nama samaran) mulai menyadari ada yang janggal. Rekan-rekannya duduk di balik laptop dengan poin-poin argumen yang tampak sempurna, namun diskusi kelas sering kali terasa hambar dan datar.
"Semua orang sekarang terdengar sama," ujar Amanda kepada CNN. Ia pernah memergoki rekan sekelasnya mengetik dengan panik, menanyakan pertanyaan profesor langsung ke chatbot untuk mendapatkan jawaban instan. Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam dunia pendidikan: AI tidak hanya membantu tugas, tetapi mulai mengikis kemampuan manusia untuk berpikir autentik.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Trends in Cognitive Sciences pada Maret lalu mengonfirmasi kekhawatiran Amanda. Riset tersebut menemukan model bahasa besar (LLM) secara sistematis menyeragamkan ekspresi dan pemikiran manusia dalam tiga dimensi, bahasa, sudut pandang, dan penalaran.
Karena AI dilatih menggunakan data yang didominasi oleh perspektif Barat, berpendidikan, industrial, kaya, dan demokratis (disebut sebagai sudut pandang WEIRD), jawaban yang dihasilkan cenderung mencerminkan irisan pengalaman manusia yang sempit. Akibatnya, keberagaman ide dalam diskusi kelas yang seharusnya menjadi tempat lahirnya inovasi, kini mulai mendatar.
Jessica, mahasiswa senior lainnya di Yale, mengaku menggunakan AI setiap hari. Ia bahkan menggunakan bantuan chatbot hanya untuk merumuskan kalimat agar terdengar lebih kohesif. Namun, ia mengakui dampak negatifnya. "Etos kerja saya benar-benar berkurang dibandingkan saat SMA. Saya merasa menjadi lebih malas," ungkapnya.
Thomas Chatterton Williams, profesor humaniora di Bard College, melihat paradoks ini. Meski AI "mengangkat standar" diskusi kelas menjadi lebih baik secara umum, teknologi ini justru mematikan pemikiran yang eksentrik dan orisinal.
"Kekhawatiran terbesar saya adalah banyak anak muda cerdas tidak akan pernah menemukan suara mereka sendiri, bahkan mereka tidak akan sepenuhnya menghargai nilai dari kepemilikan sebuah sudut pandang," tegas Williams.
Menghadapi tantangan ini, para dosen di Yale dan perguruan tinggi lainnya mulai mengubah strategi mengajar. Sun-Joo Shin, profesor filosofi di Yale, kini mengurangi bobot nilai tugas rumahan dan lebih fokus pada ujian lisan serta presentasi kelas.
Beberapa pengajar bahkan menerapkan metode "tradisional" untuk menjaga integritas akademik:
Morteza Dehghani, profesor psikologi dan ilmu komputer di University of Southern California, memperingatkan bahwa jika manusia terus menyerahkan proses penalaran kepada AI, masyarakat akan kehilangan kemampuan untuk mengkritisi ide-ide arus utama atau kandidat politik.
AI seharusnya diposisikan sebagai kolaborator untuk menemukan kelemahan dalam argumen kita, bukan agen yang melakukan segalanya atas nama kita. Tanpa batasan yang jelas, generasi mendatang berisiko lulus tanpa pernah merasakan "penderitaan" kreatif dalam menyusun ide, sebuah proses yang justru menjadi inti dari belajar berpikir. (CNN/Z-2)
ChatGPT Images 2.0 OpenAI populer di Indonesia. Simak tren penggunaan, fitur terbaru, hingga panduan membuat stiker dan foto nostalgia SMA 90-an.
OpenAI resmi merilis ChatGPT Images 2.0 dengan fitur ImageGen 2.0. Tersedia di Indonesia untuk pengguna Free hingga Pro dengan kualitas gambar 4K.
Jaksa Agung Florida selidiki OpenAI atas dugaan ChatGPT beri saran taktis kepada pelaku penembakan massal di Florida State University.
OpenAI dikabarkan tengah menyiapkan ChatGPT 6 dengan kode nama Spud. Simak bocoran fitur, performa model terbaru, dan rencana paket berlangganan Pro.
Baru-baru ini, ChatGPT juga melihat adanya peningkatan sebesar 5.100% dalam penggunaan prompt terkait pembuatan karikatur berbasis AI.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved