Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH penelitian terbaru mengungkapkan ketenaran dapat membawa konsekuensi serius bagi para penyanyi. Riset tersebut menunjukkan penyanyi yang melejit menjadi bintang justru memiliki risiko lebih tinggi untuk meninggal di usia lebih muda dibanding musisi yang kurang dikenal.
Analisis yang dilakukan peneliti dari Eropa dan Amerika Serikat ini menemukan penyanyi yang mencapai ketenaran meninggal rata-rata hampir lima tahun lebih cepat. Temuan ini mengisyaratkan ketenaran itu sendiri, bukan sekadar gaya hidup atau tuntutan pekerjaan, berperan besar dalam memengaruhi risiko tersebut.
Solois yang mencapai popularitas terbukti memiliki risiko lebih tinggi dibanding vokalis utama dalam band terkenal. Para peneliti menduga hal ini terjadi karena solois lebih terekspos secara publik, menghadapi tekanan lebih besar, dan tidak memiliki dukungan emosional yang biasanya didapatkan dalam sebuah kelompok musik.
“Hal ini mengkhawatirkan karena hal ini menunjukkan musisi terkenal berisiko mengalami kematian dini,” kata Michael Dufner, profesor psikologi kepribadian dari Witten/Herdecke University di Jerman, sekaligus penulis utama studi ini. Ia menambahkan rata-rata hidup musisi terkenal 4,6 tahun lebih pendek.
Dufner menyebut setiap dekade selalu mencatat daftar musisi yang meninggal terlalu cepat. Namun, ia menekankan sorotan media terhadap kematian musisi terkenal sering membuat publik lupa, banyak rocker yang hidup panjang dan jauh dari pusat perhatian.
Untuk meneliti hubungan ketenaran dengan risiko kematian dini, tim peneliti mengidentifikasi 324 penyanyi, baik solois maupun vokalis utama, dan mencocokkannya dengan musisi lain yang kurang terkenal dengan karakteristik serupa, seperti usia, jenis kelamin, kebangsaan, etnis, dan genre. Penelitian difokuskan pada musisi yang aktif antara 1950 hingga 1990 demi mendapatkan data kematian yang memadai.
Mayoritas penyanyi dalam studi ini adalah laki-laki kulit putih dari AS. Ketika hasilnya dianalisis, pola jelas terlihat. Penyanyi terkenal rata-rata meninggal pada usia 75 tahun, sementara musisi yang tidak terkenal hidup hingga sekitar 79 tahun. Anggota band memiliki risiko kematian 26% lebih rendah dibanding solois, namun secara keseluruhan musisi terkenal masih 33% lebih berisiko meninggal.
Risiko ini baru muncul setelah para musisi mencapai ketenaran, memperkuat dugaan bahwa ketenaran merupakan faktor penyebab. Studi ini dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology & Community Health.
Dufner menambahkan masih banyak yang perlu dipelajari untuk memahami bagaimana ketenaran dapat memperpendek usia. Tekanan publik, hilangnya privasi, tuntutan tampil sempurna, serta normalisasi alkohol dan narkoba diyakini berperan. Ada pula kemungkinan faktor temperamen atau pengalaman masa kecil membuat sebagian orang lebih rentan.
Dosen University of Westminster, Sally Anne Gross, menilai temuan ini mencerminkan kerasnya industri musik modern. Menurutnya, “Ketenaran, tampaknya, adalah racun.”
Ia menambahkan bahwa meski banyak pihak mencoba memperbaiki kondisi kerja di industri musik, tantangan yang dibawa oleh ketenaran tidak mudah diatasi. “Anda tidak bisa begitu saja pergi ke rehabilitasi untuk melepaskan diri dari kebiasaan tersebut. Hal tersebut tidak berada dalam kendali sang seniman itu sendiri,” ujarnya. (The Guardian/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved