Kecanduan Ponsel kini Dianggap Normal?

Dwi Hatmojo Kresnoadi/E-3
26/2/2015 00:00
Kecanduan Ponsel kini Dianggap Normal?
(MI/SENO)
Perkembangan teknologi ponsel pintar (smartphone) memang cukup fenomenal.

Smarthpone menawarkan berbagai keunggulan dalam berkomunikasi, karena fungsinya yang seperti komputer mini.

Banyak orang yang kemudian tergila-gila hingga tidak bisa melepas smartphone dari genggaman mereka, setiap saat, setiap waktu.

Makin masifnya penggunaan ponsel pintar disebut-sebut menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan psikis manusia, contohnya antara lain menimbulkan kecanduan, mengganggu tidur, mengurangi produktivitas, merusak otak (dari radiasi ponsel), dan membuat sulit tidur, dan merusak hubungan.

Akan tetapi, berdasarkan survei terbaru, justru ponsel pintar tidak sepenuhnya berdampak negatif.

Pasalnya, kini ponsel pintar secara mendasar mengubah gaya hidup kita.

Ponsel pintar memengaruhi segalanya, mulai dari cara bersosialisasi hingga cara menjaga kesehatan.

Faktanya, 92% responden telah mengubah cara berhubungan, 58% mengubah cara menjaga kesehatan, dan 49% mengubah cara berkencan.

Lebih lanjut, 88% akan menyisihkan waktu pada 2015 sebanyak tahun sebelumnya, sedangkan 30% lainnya berharap bisa lebih lama.

Hal itu menunjukkan dampak smartphone terhadap kehidupan akan terus meningkat.

Mengacu kepada grup peneliti teknologi Apigee Intitute yang berkolaborasi dengan Grup Inovasi Perangkat Mobile Universitas Standford, peningkatan alat tambahan pada ponsel pintar sangat dipicu dari lampiran sebuah aplikasi.

Dari 1.000 orang di AS dan Inggris, 25% teratas pengguna aplikasi yang paling populer (top apps) sangat tergantung kepada perangkat seluler mereka.

Sebanyak 55% responden selalu mengecek satu aplikasi setiap jamnya.

Yang juga mengagetkan ialah 1 dari 5 responden top apps mengaku tidak dapat mempertahankan hubungan dengan rekan kerja tanpa ponsel, 19% sulit menemukan teman baru, dan 17% lainnya mengaku tidak dapat melakukan pekerjaan mereka.

Hal itu memperlihatkan mungkin kecanduan terhadap ponsel bukan sesuatu yang buruk.

"Terlepas dari jumlah pengguna smartphone, untuk saya, intinya mereka bekerja, bermain, dan berhubungan dengan lebih baik. Saya percaya smartphone membuat hidup lebih baik," ucap Bryan Kirschner, Direktur Apigee Institute seperti dilansir CNBC, beberapa waktu lalu.

Kirschner mengatakan 68% responden tidak setuju perangkat telepon mengurangi waktu bersama keluarga.

Bahkan 96% responden mengaku terbantu dengan perangkat telepon, sedangkan 81% lainnya merasa lebih produktif.

Menurut Krischner, tidak hanya kaum milenium satu-satunya generasi yang kecanduan smartphone.

Faktanya, 1 dari 6 pemilik smartphone berumur 50-64 berada di jenjang atas pengguna aplikasi yang tengah populer.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya