Muda Main Saham, Tua Semoga Sejahtera

Prita Kusuma | Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
22/2/2015 00:00
Muda Main Saham, Tua Semoga Sejahtera
(MI/SENO)
BERAWAL dari kecemasannya akan kebutuhan hidup yang terus meningkat, serta penambahan umur yang makin dewasa, Franklin M Hutasoit, 20, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran (Unpad), akhirnya mantap menginjakkan kaki dalam dunia investasi.

Wakil Ketua Financial Market Community (FMC), salah satu Badan Semi Otonom (BSO) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad tersebut, telah cukup piawai berinvestasi di dunia saham.

"Bermain saham ialah jenis investasi paling pas untuk mahasiswa karena dalam segi pengeluaran modal tidak terlalu besar, bahkan semua orang yang mau belajar, pasti bisa," kata Franklin.

Kemudahan berinvestasi itu, kata Franklin, didukung perkembangan teknologi informasi.

Orang dapat melakukan trading atau penjualan secara online dengan aplikasi di smartphone atau laptop. Selain itu, saham relatif cepat memberikan keuntungan. Syaratnya, kita hanya perlu menguasai ilmunya.

Atur uang saku
"Saya kalau dapat uang bulanan dari orangtua, menggunakannya untuk keperluan penting, seperti buku dan alat tulis. Kalau ada sisa, saya sisihkan untuk menambah saldo di rekening saham. Soalnya kalau saldo kita banyak, jadi bisa beli saham yang bagus (blue chip) dan keuntungannya lumayan kalau harga sahamnya naik," jelas Franklin.

Bermain saham di usia muda ternyata tak terlalu banyak mengubah gaya hidup Franklin. Ia yang memang telah akrab dengan dunia ekonomi kini hanya merasa perlu mengikuti berita tentang ekonomi.

Setiap pagi Franklin senang mengecek akun Twitter-nya untuk update berita terbaru tentang saham mana yang diperkirakan akan naik atau turun sebagai dampak kebijakan pemerintah atau perkembangan korporasi.

Uang yang ia kumpulkan dari usahanya sendiri, sebanyak Rp500 ribu, ia jadikan modal awal bermain saham.

Kendati begitu, Franklin mengaku tetap memprioritaskan diri dalam kuliah, sedangkan bermain saham ialah aktivitas yang harus dilakukan setelah tugas kampus selesai.

Saat kuliah, saham terjual

"Biasanya kalau lagi enggak banyak tugas dan kuliah, saya sering cek harga saham di laptop, sekitar pukul 09.00, karena jam segitu bursa saham masih baru dibuka dan harganya suka berubah cepat sejak ditutup hari sebelumnya.

Tapi kalau jadwal padat di kampus dan hanya punya waktu luang malam, saya memanfaatkan aplikasi trading," jelasnya.

Fasilitas di aplikasi trading saham, kata Franklin, dapat diatur sendiri. Pengguna hanya perlu menentukan di harga berapa mau menjual saham. Jika suatu saat saham sudah mencapai harga yang ditentukan, bisa terjual otomatis tanpa perlu mengoperasikan aplikasinya.

"Canggih kan trading saham sekarang. Jadi misalkan saham saya mencapai target harga pukul 11.00 saat saya lagi kuliah, sahamnya nanti kejual otomatis walaupun saya lagi enggak buka aplikasi trading saham," tuturnya.

Belum sepenuhnya mandiri secara finansial membuat Franklin memutuskan berinvestasi jangka panjang.

"Saat kita melakukan jual beli sebenarnya margin keuntungan yang didapat tidak terlalu besar, paling sekitar 5% dari harga awal. Saya tidak akan segan-segan menyimpan dulu untung sedikit dari sahamnya karena rasanya kurang bermanfaat ketika nominal masih kecil," kata Franklin.

Mulai dengan Rp200 ribu
Senada dengan Franklin, Clarence Ryan, mahasiswa Jurusan Finance Prasetiya Mulya, telah terjun di dunia bursa dengan tujuan akhir mandiri secara finansial. Kebutuhan sederhana seperti 'malam mingguan' pun dapat dengan mudah ia penuhi sendiri. "Ibarat dunia persilatan, bermain saham memang harus dilatih sejak dini," kata Clarence.

Clarence mengaku mempelajari teori perdagangan saham dari bangku kuliah dan memadukan dengan aktivitasnya di Finance and Investment Society (FIS), komunitas mahasiswa keuangan yang memiliki ketertarikan di dunia investasi.

"Sering juga gagal sih. Salah satu kesulitan, ketika harga indeks sedang turun," kata Clarence yang bermain saham sejak usia 18 tahun.

Jika aktivitasnya melantai tersisa lumayan di awal bulan, Clarence akan menyisihkannya ke deposito juga instrument equity.

"Yang paling penting, konsistensi serta kontrol emosi untuk menjaga hasrat konsumsi. Kebetulan saya juga ada penghasilan dari job saya di Bloomberg Campus Ambassador Indonesia, tapi untuk saat ini saya masih pakai uang saku dan deposito saya untuk investasi walaupun gain-nya masih sedikit," ujar Clarence.

Berapa modal Clarence?
Ia mengaku memulai dengan Rp200 ribu, nomor pokok wajib pajak (NPWP) orangtua jika belum berpenghasilan, serta KTP.

"Dengan banyak mengikuti perkembangan berita serta belajar dari ahlinya, pengetahuan tentang investasi akan sangat banyak ditemui. Harapanku ke depan, lebih wise dalam konsumsi sih. Basically kan menurut statistik, pengeluaran masyarakat Indonesia sampai saat ini, proporsi terbesarnya, untuk konsumsi," kata Clarence.

Kuncinya, kata Clarence, ubah mindset dengan menyisihkan dana untuk investasi. "Untuk kebaikan kita dengan hadiahnya ya return yang amin, lebih besar dari inflasi dan bunga deposito!"



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya