Rantai dari Sensasi Foto

Dzulfikri Putra Malawi
22/2/2015 00:00
Rantai dari Sensasi Foto
(DOK. HALALIA ADRIANA)
KOTA Tua, Jakarta, saban akhir pekan menjadi tempat wisata yang ramai. Khususnya di pelataran Museum Sejarah Jakarta, muda-mudi menyemut dengan kegiatan yang hampir sama, berfoto.

Itu pula yang asyik dilakukan serombongan murid SMA asal Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (8/2). Bersamaan atau sendiri-sendiri, mereka berfoto dengan latar belakang museum era kolonial itu. Belum puas, mereka pun bergaya dengan menyewa balon buket.

Ironisnya, meski rela lama berterik matahari, rombongan itu tidak ingin melongok ke dalam museum-museum di sekitarnya. "Enggak ke dalam museumnya, males, cuma pengen foto di luar aja," tutur Tia, salah satu dari mereka. Foto selfie itu kemudian ia unggah ke media sosial.

Hal berbeda justru dilakukan Halalia Asma dan Halalia Adrina. Kakak beradik itu sengaja datang dari Malaysia untuk melihat keindahan Kota Tua dan sejarahnya.

Aliya dan Nana--begitu sapaan mereka--pun lancar menuturkan pengalaman di Museum Mandiri milik Bank Mandiri. "Tempat ini bagus, ramai orang, vintage. Datang dari pukul 12.00, kami sudah belajar soal mata uang. Di Malaysia tak ada bank yang membolehkan kita untuk tahu sejarahnya, di sini boleh," tutur Nana.

Kakak beradik itu memang tidak lupa ber-selfie. Setelah puas menyusuri museum, mereka berfoto di pelataran dengan sepeda onthel sewaan.

Dua potret muda-mudi itu pun seperti cubitan fenomena selfie. Apakah banyak remaja Tanah Air yang sudah teralihkan orientasinya karena selfie?

Seperti diungkap di beberapa studi luar negeri, kesenangan ber-selfie bisa membuat efek kecanduan. jarang pula, perhatian yang begitu tercurah untuk ber-selfie membuat interaksi dan kepekaan sosial di dunia nyata jadi terpinggirkan.

Ditambah sensasi dari respons di media sosial, tidak jarang orang makin rela melakukan apa pun, termasuk menantang bahaya demi selfie.

Di Bandung, Jawa Barat, selfie yang menguji nyali jamak terlihat di kawasan wisata Tebing Keraton. Sesuai namanya, tempat selfie favorit ialah di tepian tebing yang terdapat di Desa Ciburial atau di dalam kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ir H Djuanda.

Valensius, asal Bandung, bersama kedua temannya bergantian turun melewati pagar batas keamanan untuk mendapatkan foto terbaiknya.

"Penasaran kalau belum ke bawah, rasanya belum ke Tebing Keraton. Di-share ke media sosial, biasanya kalau banyak yang like ada kepuasan tersendiri," jelasnya.

Yang meraup untung
Kegilaan selfie pula yang membuat suasana Tebing Keraton berubah. Dua tahun lalu kawasan ini masih belum banyak dikenal orang. Namun, kini setiap akhir pekan, ratusan orang berebut berfoto, khususnya kala matahari terbit dan terbenam.

Ramainya pengunjung memunculkan usaha baru. Mobil pribadi tidak boleh lagi mencapai puncak. Gantinya terdapat sebuah pos pemberhentian yang ramai dengan jajaran tukang ojek.

Mereka mematok tarif Rp10 ribu-Rp30 ribu untuk perjalanan sekitar sepuluh menit hingga puncak tebing. Selain itu wisatawan juga harus membayar tiket masuk sebesar Rp11 ribu yang diberlakukan oleh Dinas Kehutanan Pemda Provinsi Jawa Barat.

Karcis masuk ini juga berlaku untuk ke lokasi-lokasi wisata lainnya di kawasan Tahura, seperti Goa Belanda, Goa Jepang, serta Curug Omas.

Agus, salah seorang petugas Tahura mengungkapkan bahwa di akhir pekan pengunjung dapat mencapai 400 orang per hari.

Usaha baru akibat selfie pun muncul di Kota Tua. Heri yang semula hanya menjadi tukang parkir kini menyewakan balon bukit sebagai aksesori berfoto.

Untuk menyewa satu buket balonnya pengunjung dikenai biaya Rp10 ribu/10 menit. Heri menyiapkan tujuh buket balon setiap harinya pada Sabtu dan Minggu mulai pukul 15.00 atau pukul 16.00 sore.

"Sewa oper-operan (dioper dari satu orang ke orang lainnya). Kalau sudah ada yang mulai (menyewa) yang lainnya ikutan. Saya tinggal mantau aja," ungkap Heri.

Roby, seorang pegawai swasta dari Bogor, bahkan ikut mengambil peluang. Tiap akhir pekan, ia beralih profesi menjadi penjual tongsis.

Tongsis biasa ia jual Rp30 ribu dan untuk jenis tongsis yang dilengkapi bluetooth dijual dengan harga Rp80 ribu. Dalam sehari jika pengunjung ramai ia bisa mencapai penjualan 50 tongsis.

Fenomena selfie juga menjadi lahan subur bagi bisnis kuliner. Kafe pun menghadirkan interior atau fasilitas unik agar pengunjung bisa ber-selfie.

Konsep dengan ideologi serupa itu yang juga ditampilkan oleh Andajani Trahaju, pemilik Lawangwangi Creative Space, di Dago Giri, Bandung.

Di kafenya itu terdapat sebuah jembatan yang menjorok ke area terbuka di ketinggian. Jika berdiri di atas jembatan yang terbuat dari ornamen serbakayu tersebut, Anda bisa melihat pemandangan Kota Bandung dari atas bukit. Tak jarang pengunjung yang datang hanya berfoto-foto di spot ini, tanpa memesan satu makanan pun. Bahkan jembatan itu pun menjadi terkenal di media sosial.

"Anak muda yang paling banyak membantu kami dalam hal promosi, mereka datang ke sini dan post di media sosial," ujar perempuan yang akrab disapa Yayu itu.

Bagi Yayu, pengunjung yang hanya berfoto tidak jadi masalah. Bahkan jika jumlahnya hampir setengah pengunjung yang datang di akhir pekan, yakni sekitar 500 orang. Yayu baru akan menerapkan biaya jika foto dilakukan untuk kebutuhan pre-wedding.

Di pusat Jakarta, Nomz Kitchen and Pastry juga memanfaatkan momen kegilaan selfie. Nomz bahkan mengadakan kontes foto saat pembukaannya. Nomz pun menyediakan spot foto unik di kafenya. Lokasinya tepat di pintu utama dan juga sebuah meja di depan dapur.

Bagi pemilik Nomz, Sherly Ho, gaya hidup masa kini yang senang berfoto memang tidak dapat dibendung. Sebagai pengusaha, yang terpenting ialah ikut memanfaatkan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya