Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KONGRES Internasional Gambut (International Peat Congress/IPC) ke-15 di Kuching, Malaysia, seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia Soelistijono, memunculkan pemahaman baru di kalangan ilmuwan bahwa pengelolaan lahan gambut bisa diselaraskan dengan manajemen agro-environ dengan prinsip keberlanjutan.
Hal tersebut dikemukakan oleh ahli pertanahan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Suwardi sebagai peninjau dalam kongres yang berlangsung 15-19 Agustus dan ditutup, kemarin itu.
Dia mengatakan kongres IPC yang kali pertama diselenggarakan di luar Eropa dan diikuti oleh 37 negara ini juga merupakan terbesar dan dihadiri oleh banyak ilmuwan.
"Dari beberapa kongres yang saya ikuti saya melihat ada pergeseran paradigma bagaimana ilmuwan memperlakukan lahan gambut. Mereka melihat adalah suatu hal yang penting, oleh pemerintah dan asosiasi yang ada di masyarakat, lebih sensitif dalam memperlakukan lahan gambut secara holistik melalui pendekatan pertanian yang seimbang," ujarnya.
Dia menjelaskan posisi Indonesia memiliki lahan gambut seluas 14,5 juta ha atau 11% dari total lahan gambut dunia dan 50% lahan gambut daerah tropis.
Namun dia menyayangkan belum banyak pakar gambut asal Indonesia yang benar-benar mendalami ilmu pengetahuan gambut.
Hal itu bisa dilihat dari kongres di Kuching kali ini di mana banyak ilmuwan muda dari belahan dunia yang justru meneliti gambut di Tanah Air.
Dicontohkan, Finlandia, Estonia, telah memanfaatkan gambut sejak 1960-an untuk kebutuhan energi, termasuk Kanada.
Bahkan delegasi Tiongkok dalam kongres kemarin juga telah men-declare bahwa pemerintahnya sedang mengkaji serius untuk pemanfaatan lahan gambut.
Pendapat Dr Suwardi tersebut senada dengan Direktur Tropical Peat Research Laboratory, Malaysia Dr Lulie Melling.
Menurutnya, pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian atau perkebunan di Malaysia pada umumnya dianggap sah-sah saja asal memperhatikan proses ekologi tanah, serta interaksi antara kultur teknis agronomi dan lingkungan.
Peran ilmuwan
Kerisauan tentang masih minimnya peran ilmuwan Indonesia terkait lahan gambut di negerinya sendiri juga dikemukakan oleh pakar gambut dari IPB Basuki Sumawinata.
"Bagaimana nanti 20 tahun ke depan seperti apa data mereka tentang gambut kita," ujarnya.
Basuki menyambut baik terobosan khazanah intelektual dari banyak ilmuwan di IPC kali ini yang berani menerapkan teknologi baru dalam memandang permasalahan gambut.
Menurut Basuki, Indonesia harus juga mandiri dan berani dalam menilai persoalan gambut.
(H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved