Kerusakan Alam Renggut Hak Anak Perempuan Dayak

Basuki Eka Purnama
02/6/2016 08:30
Kerusakan Alam Renggut Hak Anak Perempuan Dayak
(Istimewa)

AKTIVIS dan pemerhati anak Perempuan Dayak Sr. Theresia Kurniawati RGS mengaku prihatin dengan kerusakan alam dan kondisi dunia pendidikan di Ketapang yang cukup memprihatinkan.

Aktivis anak yang tinggal di Dusun Tempayak, Desa Sukakarya, Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, itu sedih terkait fakta bahwa anak SMP pun belum lancar membaca. Untungnya, dalam Dayak antara anak perempuan dan laki-laki tidak begitu dibedakan.

"Kalau anak laki-laki bisa sekolah, anak perempuan juga bisa sekolah. Bahkan, kadang-kadang anak perempuan di dalam kebudayaan Dayak diperlakukan lebih istimewa," tegas Theresia.

“Anak perempuan bisa jadi anak kesayangan. Orang sini jarang punya banyak anak. Paling satu atau dua. Buat mereka anak adalah 'kekasih saya' atau yang paling dicintai. Secara budaya pun, kalau anak perempuan dilecehkan akan ada denda adat,” imbuhnya.

Tapi satu hal yang sekarang ini tidak pernah disadari, terangnya, yaitu runtuhnya hak anak perempuan untuk mendapatkan air yang cukup.

Ini konkret: perempuan dimanapun butuh air. Sedangkan tanah di Kalimantan masif ditanami sawit yang notabene menyedot banyak air. Orang sudah tidak punya air lagi. Itu yang tidak disadari orang.

“Air bagi perempuan bukan sangat penting, tetapi lebih dari itu. Kalau tidak ada air, begitu susahnya kami para perempuan. Itu yang orang nggak kepikir. Perempuan hidup nggak mungkin nggak ada air. Laki-laki mungkin bisa bertahan sehari tidak pakai air, kalau perempuan tidak bisa," terangnya.

Ia menegaskan kerusakan alam Kalimantan pelan-pelan juga merenggut hak perempuan untuk tetap sehat dan untuk tetap menjaga kelangsungan hidup.

Di sisi lain, ia juga berupaya mencegah human trafficking di hulunya. Trafficking ada karena kemiskinan. Kemiskinan ada karena pendidikannya kurang diperhatikan.

Karena itulah, ia kini menampung anak-anak perempuan pedalaman yang menempuh pendidikan di Marau. Anak-anak perempuan pedalaman diberi fasilitas agar bisa mendapatkan tempat yang aman dan nyaman untuk mengisi kekosongan yang tidak didapat di sekolah.

“Mentang-mentang kita di pedalaman, tidak ada yang mau memperhatikan,” keluhnya merujuk pada Dinas Pendidikan Ketapang yang menurutnya masih belum propendidikan anak-anak pedalaman.

“Kalau ada salah satu dari anak perempuan ini gagal, kita akan kehilangan satu orang pemimpin. Misalkan ada yang hamil muda dan harus melahirkan dalam usia muda lalu kesulitan melahirkan dan meninggal itu artinya kami kehilangan satu orang ibu yang hebat di masa depan,” tandasnya.

Tugasnya kini menampung anak-anak dari pedalaman yang tidak punya akses pendidikan untuk sekolah dan memberikan tempat yang aman dan nyaman untuk mereka.

Ia berharap ke depan anak-anak perempuan harus memiliki peran penting untuk memutus mata rantai kemiskinan, kejahatan, kekerasan dan diskriminasi antar generasi.

"Bila pemenuhan hak-hak mereka berjalan sesuai harapan, anak perempuan berpotensi menjadi agen penting dalam perubahan dunia," pungkasnya. (RO/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya