Begini Kisah Penyanderaan 4 WNI Versi Kapten TB Henry

Antara
13/5/2016 19:34
Begini Kisah Penyanderaan 4 WNI Versi Kapten TB Henry
(ANTARA)

KAPTEN Kapal Tunda (tugboat) Henry, Moch Ariyanto Misnan, mengaku menyerah kepada pembajak yang menyerang kapal mereka saat sedang merapat di daerah perbatasan Indonesia-Filipina di sekitar Ligitan, Kalimantan.

"Sebelumnya, kita sempat melakukan perlawanan, karena ada yang tertembak, jadi saya putuskan untuk menyerah daripada ada yang tertembak lagi, lebih baik kami berempat yang ikut," kata Kapten Ariyanto Misnan di Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Jakarta, Jumat (13/5).

Selain Kapten Moch Ariyanto asal Bekasi Timur, Jawa Barat, tiga WNI lain yang telah kembali ke Indonesia dengan selamat ialah Loren Marinus Petrus Rumawi (kepala kru) asal Sorong, Papua Barat, Dede Irfan Hilmi (wakil kru) asal Ciamis, Jawa Barat, dan Samsir (anak buah kapal) asal Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

Setelah mengikuti acara serah terima ABK WNI kepada pihak keluarga, Ariyanto menjelaskan kronologi pembajakan Kapal Tugboat Henry dan Tongkang Christy pada 15 April 2016 lalu hingga akhirnya berhasil dibebaskan di Kepulauan Sulu, Filipina Selatan, pada Rabu (11/5).

Pada 15 April petang, lima orang bersenjata lengkap menyerang kedua kapal yang sedang merapat untuk menuju Tarakan, Kalimantan Utara, setelah melakukan pengiriman ke Cebu, Filipina. Kelima orang tersebut, kata Ariyanto, meminta semua awak kapal turun, tapi dia sebagai kapten menolak dan semua berusaha melakukan perlawanan.

"Kami melawan dengan barang yang ada, seperti alat pemadam kebakaran, semprotan, parang, pisau, apa pun yang ada di kapal," tutur Ariyanto.

Namun, salah satu kru Kapal Christy, Lambas Simanungkalit (mekanik) tertembak, Ariyanto pun menyerah dan meminta yang lainnya juga menyerah.

Setelah itu, patroli Malaysia datang dan berhasil menyelamatkan enam kru termasuk Lambas Simanungkalit yang tertembak, dan membawa mereka ke Tawau, Sabah, Malaysia, adapun empat kru Kapal Henry dibawa lari pembajak.

"Saya tidak tahu dibawa ke mana karena gelap, saya juga tidak tahu kalau itu Filipina," kata Ariyanto.

Selama hampir satu bulan disandera kelompok bersenjata di Filipina, Ariyanto mengaku kekerasan fisik kadang terjadi dan membuat mereka masih trauma. Meskipun masih trauma, Ariyanto dan ketiga ABK lainnya merasa sangat
bersyukur dapat kembali ke Indonesia dengan selamat dan bertemu dengan keluarga mereka.

"Alhamdulillah, terima kasih Bapak Presiden, Ibu Menlu, serta Panglima TNI dan bapak-bapak prajurit yang tiada capek untuk mengurus kami yang disandera," kata dia. (Ant/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya