BELAS kasih dan keadilan sosial menjadi pilihan tema yang akan didiskusikan dalam perhelatan Konferensi Internasional Wanita Buddha Sakyaditha ke-14 di Yogyakarta, 23-30 Juni mendatang. Pendiri Sakyadhita, Biksuni Karma Lekshe Tsomo, mengatakan pihaknya ingin memperkenalkan kearifan ajaran Buddha melalui lensa feminis untuk memperluas perspektif gerakan keadilan sosial.
"Perempuan berperan besar dalam isu-isu kemanusiaan. Aktivitas mereka di bidang sosial sudah tidak diragukan lagi," ujar Biksuni Lekshe saat ditemui di studio Metro TV, Senin(8/6). Ia mencontohkan keterlibatan perempuan pada salah satu organisasi sosial di Indonesia, Tzu Chi. Mereka kerap kali melakukan proyek kemanusiaan yang menyasar masyarakat tidak mampu dan anak-anak.
Lebih lanjut Biksuni Lekshe menjelaskan isu-isu yang akan dibahas dalam konferensi tersebut. "Kami tidak sekadar membahas persoalan keadilan sosial yang ada di permukaan, tetapi mempelajari lebih mendalam hingga akarnya. Juga bagaimana mengajak serta masyarakat untuk aktif bersuara. Perempuan bisa menjadi kunci untuk menyelesaikan persoalan keadilan sosial, tapi kerap terbentur persoalan gender," urainya.
Ia menambahkan beragam isu keadilan sosial yang bersinggungan langsung dengan perempuan akan dibahas. Mulai isu keadilan gender, ekonomi, lingkungan, hingga politik. Ia berharap perempuan Buddhis dapat mengambil peran dalam proses penyelesaian isu-isu tersebut. Pada kesempatan itu, Biksuni Lekshe juga menyinggung Indonesia dengan keramahan dan pluralismenya.
Menurutnya, hal itulah yang mendasari pemilihan Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan konferensi internasional tersebut. "Indonesia itu sangat menarik, meskipun banyak perbedaan dari segi bahasa, agama, adat, dan budaya tetapi tetap rukun. Banyak yang bisa dipelajari. Di Yogyakarta sendiri banyak sekali peninggalan sejarah yang berhubungan dengan agama Buddha," pungkas bikhuni yang juga guru besar di Universitas San Diego, Amerika Serikat itu.