Epilepsi pada Anak Bisa Disembuhkan

AU/M-6
10/6/2015 00:00
Epilepsi pada Anak Bisa Disembuhkan
(ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY)
SELAMA ini masyarakat berpendapat epilepsi sebagai penyakit yang sukar disembuhkan. Namun, menurut Guru Besar Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Prof Elisabeth Siti Herini, penyakit yang di Indonesia dikenal dengan sebutan ayan itu dapat disembuhkan, terutama pada anak-anak.

"Istilah epilepsi atau ayan sering sekali kita dengar, dan bahkan merupakan penyakit yang menakutkan pada masyarakat yang belum mengetahui apa sebenarnya epilepsi. Sering juga anak yang didiagnosis epilepsi dianggap sebagai stigma atau aib pada keluarga sehingga mereka berusaha menutupi keadaan yang sebenarnya," ujar Elisabeth saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM di ruang Balai Senat, kemarin.

Pada pidato pengukuhannya yang berjudul Epilepsi pada Anak: Bagaimana Meningkatkan Kualitas Hidup Anak dengan Epilepsi?, Elisabeth menuturkan epilepsi merupakan gangguan neurologis yang sering terjadi pada masa anak-anak dengan aktivitas neuron yang berlebihan dan tidak normal di otak. Secara klinis epilepsi didefinisikan sebagai serangan kejang yang berulang dengan jarak lebih dari 24 jam tanpa penyebab yang jelas.

Di seluruh dunia diperkirakan 50 juta orang menyandang epilepsi dan 10,5 juta di antaranya terjadi pada anak di bawah usia 15 tahun. Penelitian berbasis populasi mendapatkan insiden tahunan epilepsi pada masa kanak-kanak 61-124 per 100.000 di negara-negara sedang berkembang dan 41-50 per 100.000 di negara maju.

Data prevalensi epilepsi di Iran berkisar 5%, di Hong Kong 4,5 per 1.000 anak berumur kurang dari 19 tahun, di Eropa dan Amerika Utara bervariasi 3,6-6,5 per 1.000, sedangkan di Afrika dan Amerika Latin 6,6-17 per 1.000. "Di Indonesia belum ada data mengenai prevalensi maupun insiden untuk penyandang epilepsi pada anak.

"Elisabeth menjelaskan terdapat dua macam penatalaksa-naan epilepsi, yaitu pengobatan dengan farmakoterapi dan nonfarmakoterapi. Untuk farmakoterapi, diberikan terapi obat-obatan, di antaranya fenitoin, karbamazepin, lamotrigin, okskarbazepin, asam valproate, klonazepam, fenobarbital (agonis GABA), topiramat, ethosuximide, felbamate, levetiracetam, primidone, vigabatrin, dan zonisamide. "Untuk nonfarmakoterapi ada tiga macam, yaitu diet katogenik, stimulus nervus vagus, dan terapi bedah," ujarnya memerinci.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya