Pelaku Perjokian Terancam Sanksi Hukum

Fetry Wuryasti
10/6/2015 00:00
Pelaku Perjokian Terancam Sanksi Hukum
(MI/BARRY FATAHILAH)
MENTERI Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir berjanji akan menindak tegas setiap kasus perjokian dalam pelaksanaan ujian seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) di seluruh Indonesia.

"Pelaku serta yang memberikan celah kasus perjokian akan diberi sanksi tegas," katanya saat memantau pelaksanaan ujian SBMPTN di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Yogyakarta, kemarin.

Menurut Nasir, pihak universitas perlu memberikan pengawasan secara mendetail untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya joki dalam pelaksanaan SBMPTN.

"Oknum perguruan tinggi yang memberikan fasilitas atau celah akan kami berikan sanksi tegas. Kalau pelaku mahasiswa, dia akan dikeluarkan dari perguruan tinggi," kata Nasir.

Sementara itu, calon mahasiswa yang terindikasi menggunakan bantuan joki akan langsung didiskualifikasi sebagai peserta SBMPTN.

"Pelaku joki akan diserahkan ke kepolisian untuk mendapatkan sanksi hukum," kata dia.

Menurut Menristek, selama melakukan peninjauan pelaksanaan SBMPTN di Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), kemarin, kasus perjokian tidak banyak terjadi.

Menurut laporan yang ia terima, kasus perjokian hanya ditemukan di Universitas Hasanudin (Unhas) Makassar dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

"Modusnya seperti apa, akan kami dalami lagi," kata dia. Menurut dia, secara terpu-sat, untuk menghindari kasus perjokian, ragam soal SBMPTN untuk tiap-tiap meja dibedakan dengan empat varian soal.

Kendati demikian, menurutnya, sesuai dengan hasil peninjauan di beberapa perguruan tinggi negeri, secara umum pelaksanaan SBMPTN berlangsung baik.

"Alhamdulillah secara umum berjalan dengan baik, seluruh naskah disediakan dengan baik dan lengkap serta kondisi tidak rusak," kata dia.

Peserta difabel
Berdasarkan data dari panitia, terdapat 693.185 siswa yang mengikuti ujian SBMPTN tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 260.797 siswa memilih program studi sains dan teknologi, sedangkan yang memilih ilmu sosial humaniora berjumlah 277.676 siswa, dan yang memilih program campuran sebanyak 154.712 siswa.

Soal ujian tertulis SBMPTN dirancang untuk mengukur kemampuan dasar yang dapat memprediksi keberhasilan calon mahasiswa di semua program studi, yakni kemampuan penalaran tingkat tinggi (higher order thinking), yang meliputi potensi akademik, penguasaan bidang studi dasar, bidang sains dan teknologi (saintek), dan atau bidang sosial dan humaniora (soshum).

Selain mengikuti ujian ter-tulis, peserta yang memilih program studi ilmu seni dan atau keolahragaan diwajibkan mengikuti ujian keterampilan.

Kemarin, SBMPTN dilaksanakan serentak di 74 PTN seluruh Indonesia. Di FHUI Depok, tujuh peserta berkebutuhan khusus (difabel) mengikuti ujian itu.

Ketua Panitia Lokal Jakarta SBMPTN 2015, Bambang Wibawarta, mengatakan jumlah peserta difabel yang mendaftar ialah 12 orang. Namun, yang ikut ujian hari ini hanya tujuh orang.

"Sisanya (lima orang) tidak hadir tanpa keterangan," kata Bambang saat meninjau peserta ujian bersama rombongan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir, kemarin. (KG/M-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya