Penyelenggaraan haji tahun ini berupa akomodasi dalam pengadaan perumahan atau pemondokan, katering dan transportasi akan diawasi lebih ketat. Hal tersebut dikemukakan Inspektorat Jenderal Kementerian Agama (Irjen Kemenag) M Jasin menjawab Media Indonesia,kemarin,terkait persiapan haji tahun ini. Mantan pimpinan KPK ini menjelaskan bahwa pihaknya melakukan proses negosiasi dalam pengadaan pemondokan, katering, maupun transportasi.Sehingga tim yang melakukan negosiasi dalam pengadaan akomodasi mesti memiliki data base.
"Data base ini amat penting sehingga penyelenggaraan haji kita yang tetap mengedepankan kualita pelayanan jemaah tetapi juga terjadi efisiensi dan penghematan,"tegasnya. Dijelaskan tim Irjen Kemenag telah memiliki data perusahaan katering maupun pemilik rumah yang tidak direkomendasikan untuk dipakai pada musim haji tahun ini. Sedikitnya, menurut dia,terdapat 44 perumahan atau pemondokan yang tidak direkomendasikan untuk disewa.Selain itu ada sejumlah perusahaan katering yang masuk daftar tidak direkomendasikan.
Perusahan katering yang tidak direkomendasikan pada musim haji tahun ini dari tim irjen mencium adanya upayya "keuntungan" atau gratifikasi kepada oknum pejabat. Sebab itu, hemat dia erusahaan yang dikontrak harus memiliki rekam jejak yang bagus, tidak pernah mengirim nasi basi yang merugikan jemaah dan pengirimannya tepat waktu. Saat ditanya bentuk mekanisme pengawasan seperti apa ,ia menjelaskan selain Irjen Kemenag,pihak lain yang turut mengawasi penyelenggaraan haji seperti DPR, BPK,KPK, dan Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI).
Ia mencontohkan dalam pengawasan sejak awal keterlibatan dalam upaya pencarian pemondokan, katering, transportasi, sehingga dapat meminimalkan terjadinya kekeliruan atau penyimpanga. Menurutnya di Makkah sudah lebih dari 115 hotel yang telah dilakukan kesepakatan kontrak begitupun di Madinah sudah dilakukan negosiasi. Sementara itu, anggota tim pengawas haji DPR, dari Fraksi Nasdem Choirul Muna mengingatkan perlunya perbaikan haji tahun ini tentang Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) di Madinah.
"Kita perlu cari kontrakan yang representatif karena kontrak yang ada sudah habis,"cetusnya. Saat mengunjungi BPHI di Madinah dua bulan lalu,ia melihat kondisi BPHI sudah rusak dan tidak terawat."Kondisinya sudah kumuh ,peralatan oksigen macet ,atapnya jebol ,ini disebabkan BPHI hanya dipakai setahun sekali pada musim haji,"tegasnya. Terkait pemondokan haji, Choirul mengaku menemukan satu pemilik hotel yang protes dan mengklaim bahwa hotelnya sudah di booking tetapi stelah dilihat belum ada kontrak hitam diatas putih. Sedangkan untuk katering dapat diturunkan tarifnya sekitar 1 hingga 1,5 rial dari 12 rial yang ditawarkan. Ia juga mengingatkan katering harus tepat waktu dan tidak merugikan jemaah.