TIM ekspedisi NKRI 2015 koridor Bali dan Nusa Tenggara dalam misi selama empat bulan menjelajah Bali hingga Nusa Tenggara Timur berhasil menemukan flora, fauna, dan sejumlah potensi di wilayah itu.
Temuan itu dipaparkan dalam acara penutupan Ekspedisi NKRI koridor Bali dan Nusa Tenggara yang dilakukan di Pantai Gorontalo, Labuan Bajo, Kabupatan Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, kemarin.
Tim ekspedisi itu beranggotakan seribu personel dari TNI khususnya Kopassus dan Polri, ditambah 200 orang dari kalangan peneliti, akademisi, dan mahasiswa berbagai perguruan tinggi.
Hasil temuan mereka ialah 2.066 flora, 2.149 fauna termasuk di dalamnya spesies langka, 880 temuan di sektor kehutanan, 494 di bidang geologi, 647 di bidang potensi bencana, dan 2.312 di bidang sosial dan budaya.
"Selain penemuan potensi kewilayahan, tim ekspedisi melakukan kegiatan sosial guna membangun dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat," kata Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen TNI M Munir.
Temuan-temuan yang diperoleh dari hasil ekspedisi itu, lanjut Munir, akan berguna bagi ilmu pengetahuan di masa mendatang.
"Hasil ekspedisi ini selain untuk kepentingan pertahanan kita, juga berguna untuk ilmu pengetahuan dan teknologi selanjutnya. Bahkan dari temuan ini masih ada yang diteliti lebih lanjut di laboratorium," jelasnya.
Hasil ekspedisi itu akan diserahkan kepada Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sebagai wakil pemerintah, untuk ditindaklanjuti.
Selanjutnya, hasil tersebut diserahkan ke pemerintah daerah untuk dikembangkan di berbagai sektor termasuk juga kesiapan daerah dalam menghadapi bencana.
Deputi I Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Willem Rampangilei, dalam kesempatan sama, menambahkan program ekspedisi tersebut akan menjadi program strategis pemerintah.
Ekspedisi tahun ini merupakan kelima kalinya dan tahun depan menurut rencana dilaksanakan di Papua.
Ekspedisi pertama kali dilakukan pada 2011 di koridor Sumatra. Pada 2012, ekspedisi berpindah ke koridor Kalimantan, kemudian pada 2013 di Sulawesi dan 2014 di Maluku.
Penggagas ide ekspedisi tersebut ialah mantan Pangdam I Bukit Barisan Letjen (Purn) Suryo Prabowo.
Suryo yang ikut hadir dalam acara penutupan itu mengungkapkan ide tersebut muncul setelah ia melihat sebagian hutan di Sumatra telah beralih fungsi menjadi kebun sawit.
"Saat saya bertugas di Kodam Bukit Barisan prihatin melihat hutan-hutan beralih fungsi menjadi kebun sawit."
Suryo kemudian mendata luas hutan yang telah beralih fungsi melalui ekspedisi.