Populasi Paus di Jepang,antara Penelitian dan Perburuan Komersial

MI
06/6/2015 00:00
Populasi Paus di Jepang,antara Penelitian dan Perburuan Komersial
()
PERBURUAN paus telah dilakukan sebagian besar nelayan Jepang sejak beberapa ratus tahun lalu. Selain sebagai budaya, perburuan ditujukan untuk konsumsi masyarakat. Pasca-Perang Dunia II, ketika industri mulai dibangun, perburuan komersial semakin digencarkan demi pemenuhan konsumsi untuk menanggulangi krisis kelaparan.

Selain Jepang, tren perburuan komersial dilakukan beberapa negara maju (termasuk Amerika dan Inggris). Dengan melihat gencarnya perburuan paus komersial, pelarangan perburuan diterbitkan pada 1980-an. Dua negara baltik (Norwegia dan Islandia) mengabaikan peraturan pelarangan.

Dalam menanggapi pelarangan perburuan komersil paus, Jepang mengalihfungsikan tujuan perburuan komersial ke arah penelitian. Penelitian ditujukan agar aktivitas perburuan komersial dapat berkelanjutan. Untuk memantapkan penelitian yang digagas Jepang, dibuat juga sebuah badan yang bertugas mengawasi penangkapan mamalia tersebut, yaitu The Institute of Cetacean Research.

Penelitian dilakukan dengan memperhatikan populasi, harapan hidup rata-rata, eksposur polutan, dan susunan makanan pada dasarnya dilakukan melalui aktivitas perburuan.

Saat ini, Jepang telah mengajukan proposal penelitian baru kepada International Whaling Commission, yang berisi penetapan penangkapan 333 paus minke untuk keperluan penelitian dan pembatasan program penelitian selama 12 tahun.

Kenyataan yang mengindikasikan perburuan pada penelitian yang dilakukan Jepang memunculkan sejumlah ketidaksetujuan dari aktivis lingkungan. Junichi Sato, aktivis Greenpeace Jepang yang juga seorang peneliti, menduga penelitian yang dilakukan Jepang selain bukan merupakan ilmu murni, juga sarat dengan politik untuk menghidupkan kembali perburuan komersial. Di sisi lain, sebagian besar aktivis antiperburuan paus mendesak penggantian metode pembunuhan menjadi aktivitas observasi, mengambil biopsi, atau pemeriksaan debit feses.

Profesor Seiji Shioda, Hoshi University di Tokyo, membuktikan tekad penelitian yang digagas Jepang dalam sebuah temuan. Ia menemukan balenine, zat yang ditemukan dalam daging paus, yang dapat mengurangi efek penyakit alzheimer berdasarkan uji coba pada tikus. (AFP/Zic/L-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya