Sarjana Australia Petakan Medan Magnet Bumi

MI
06/6/2015 00:00
Sarjana Australia Petakan Medan Magnet Bumi
(University of Sydney)
TEORI yang sudah berumur 60 tahun mengenai susunan medan magnet yang mengelilingi Bumi akhirnya dapat dibuktikan. Peneliti Cleo Loi yang berlatar belakang sarjana strata satu menjadi ketua peneliti dan orang pertama yang menemukan cara melihat lapisan magnetosfer Bumi dalam tiga dimensi (3D).

"Selama lebih dari 60 tahun, para ilmuwan meyakini struktur itu ada dan kami untuk pertama kalinya telah memberikan bukti visual bahwa struktur itu benar-benar ada," kata Cleo Loi dari ARC Centre of Excellence for All-sky Astrophysics (CAASTRO) dan School of Physics di University of Sydney, Australia.

Wilayah ruang angkasa di sekitar Bumi ditempati medan magnet, yang disebut magnetosfer. Magnetosfer itu diisi plasma yang dibuat atmosfer yang terionisasi oleh sinar matahari. Lapisan paling dalam dari magnetosfer ialah ionosfer dan di atasnya terdapat plasmasfer. Plasmasfer terisi oleh berbagai struktur plasma berbentuk aneh seperti tabung.

"Kami telah mengukur posisi struktur tersebut pada sekitar 600 kilometer di atas tanah, di ionosfer bagian atas, dan tampaknya terus menuju ke atas hingga plasmasfer. Daerah itu merupakan tempat atmosfer netral berakhir dan bertransisi ke plasma dari angkasa luar," jelas Ms Loi.

Dengan menggunakan Array Murchison Widefield (MWA), teleskop radio yang terletak di gurun Australia Barat, Loi dapat memetakan noktah besar di langit dan bahkan mengeksploitasi kemampuan snapshot MWA yang sangat cepat untuk membuat film. Perangkat itu secara efektif menangkap gerakan real-time plasma.

"Kami melihat pola yang mencolok di langit, garis-garis plasma dengan kepadatan tinggi terlihat rapi menyelingi garis-garis plasma dengan kepadatan rendah. Pola itu terlihat seperti aurora," kata Loi.

Teknologi MWA sangat membantu. MWA terdiri dari 128 antena yang tersebar di area sekitar 3 x 3 kilometer yang bekerja sama sebagai satu instrumen. Dengan memisahkan sinyal dari antena di timur dan di barat, objek bisa dilihat dalam 3D.

"Ini seperti memutar teleskop menjadi sepasang mata dan dengan itu kami dapat menyelidiki sifat 3D dari struktur tersebut dan menontonnya bergerak," kata Loi.

Perempuan yang menjadi penulis utama penelitian itu melakukan penelitian tersebut sebagai bagian dari tesisnya. Dia memenangi penghargaan the 2015 Bok Prize of the Astronomical Society of Australia dan baru-baru ini hasil penelitian tersebut diterbitkan di Geophysical Research Letters.

"Penemuan struktur tersebut sangat penting karena struktur menyebabkan distorsi sinyal yang tidak diinginkan. Sebagai salah satu contoh, hal itu memengaruhi sistem navigasi berbasis satelit sipil dan militer. Jadi kita perlu memahami struktur ini," kata Loi, seperti dilansir University of Sydney pada Senin (1/6). (Smh.com/businessinsider/Zuq/L-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya