PENELITIAN Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia tahun lalu menyebutkan sebanyak 7 dari 10 anak usia sekolah (6-12 tahun) belum memenuhi gizi sarapan mereka.
Akibatnya, pertumbuhan anak jadi tidak sempurna.
Dari kajian yang mereka lakukan di Asia dan Indonesia pada 16 ribu anak-anak itu, dinyatakan mayoritas anak-anak kekurangan zat gizi mikro berupa zat besi, zink, kalsium, vitamin D, E, B6, dan B12.
"Kekurangan gizi itu membuat anak-anak mengalami gangguan tumbuh, seperti standar tinggi dan berat badan tidak tercapai, kurang gizi, dan anemia," ujar Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Hardinsyah di sela penyerahan penghargaan kepada Energen dalam International Symposium on Food and Nutrition, di Jakarta, kemarin.
Hardinsyah menjelaskan ada beberapa penyebab kebiasaan sarapan tidak dilakukan.
Pertama, ketidakmampuan masyarakat kelas ekonomi bawah.
Selanjutnya, ketidaktahuan kalangan menengah atas dan bawah mengenai kurangnya kesadaran melakukan sarapan yang benar.
Ketiga, faktor lingkungan yang tidak kondusif menyiapkan sarapan bagi anak karena orangtua sibuk bekerja.
"Ini yang selalu terjadi pada sosial ekonomi di perkotaan. Edukasi asupan gizi sarapan harus disampaikan kepada lingkungan anak seperti orangtua dan guru," tuturnya.
Ia menyarankan sarapan setidaknya memenuhi unsur karbohidrat seperti nasi dan roti, protein seperti telur, dan gizi mikro dari sayuran.
Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek juga mengimbau kepada semua pihak mulai orangtua hingga guru untuk meningkatkan kesadaran sarapan pada anak atau siswa mereka.
Itu penting agar Indonesia bisa lepas dari kondisi darurat gizi yang salah satunya dipicu tidak terpenuhinya gizi sarapan pada anak-anak sekolah.
"Semua bermula dari sarapan anak-anak yang sering tidak terpenuhi. Sarapan pagi penting. Mereka akan mengisi otak dengan energi dari sarapan pagi," tukas Menkes.