SERING kram atau kesemutan bisa menjadi salah satu tanda kerusakan saraf tepi atau neuropati. Neuropati merupakan kerusakan saraf tepi yang dapat mengenai saraf sensorik, motorik, otonom serta campuran.
"Saraf tepi merupakan saraf yang keluar sepanjang tulang belakang menuju ke seluruh bagian tubuh dan kerusakan saraf tepi atau yang kita sebut neuropati ini bisa mengenai semua rentang usia," ucap Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Pusat dr Manfaluthy Hakim, Sp. S(K) dalam media workshop bertajuk Latih Sarafmu Kurangi Risiko Neuropati yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis (28/5).
Gejala neuropati biasanya ditandai kebas, kesemutan, mati rasa, kram, kaku, hingga yang terburuk ialah kelemahan anggota gerak. Data The Open Orthopaedics Journal 2012 menyebutkan salah satu kerusakan saraf tepi yang sering diderita ialah carpal tunnel syndrome (CTS). Penyakit itu disebabkan gerakan berulang naik turun atau gerakan terus-menerus pada pergelangan tangan yang mengakibatkan pembengkakan tendon dan menekan saraf di daerah tersebut. Gangguan itu biasanya dialami mereka yang berusia muda dan produktif, antara lain pekerja dengan paparan getaran di tangan, terlalu lama mengetik di komputer ataupun gadget, dan pengendara motor.
"Gejalanya bisa nyeri pada pergelangan tangan, kesemutan, kebas, serta menurunnya kekuatan menggenggam pada tangan yang terkena. Bisa jadi seseorang yang terkena CTS tidak mampu mengangkat gelas.
"Data Neuropathy Checkpoints 2015 serta Laporan Survei Gejala Neuropati 2014 dari Merck menyebutkan 42% orang memiliki risiko neuropati, dan 1 dari 4 penderita mulai merasakan kesemutan dan kebas di usia 26-30 tahun.
Prevalensi neuropati yang semakin tinggi membuat para ahli kesehatan, spesialis kedokteran olahraga, dan spesialis saraf menciptakan sebuah aktivitas fisik yang dinamakan neuromove sebagai upaya preventif neuropati sejak dini. "Neuromove adalah gerakan olahraga yang didesain secara khusus untuk mengaktifkan sel-sel saraf," papar spesialis kedokteran olahraga dr Ade Tobing, SpKO.
Ade mengatakan neuromove terdiri dari gerakan menyilang batang tubuh, koordinasi bola mata, tangan, keseimbangan, dan peregangan yang dapat menghindari cedera. Hal itu dimaksudkan untuk melatih saraf, melemaskan ketegangan otot, serta mengurangi sakit punggung akibat duduk terlalu lama.
Gerakan itu dibuat untuk mengaktifkan saraf-saraf, baik saraf tepi maupun pusat sehingga dapat meningkatkan kecepatan reaksi seseorang dan meningkatkan daya ingat.
Gerakan sederhana itu mudah dilakukan di mana saja, termasuk saat beraktivitas di kantor. Ade menganjurkan agar menyediakan waktu 15-20 menit untuk melakukan keseluruhan gerakan, atau 5-10 menit untuk gerakan inti yang dapat dilakukan di kantor.
Manfaluthy Hakim mengatakan mempraktikkan neuromove ketika melakukan aktivitas berulang dalam waktu lama akan mencegah gejala kram dan kebas. Hal tersebut bisa juga mencegah kerusakan saraf.
Selain mempraktikkan neuromove secara teratur, pencegahan neuropati harus dilakukan bersamaan dengan konsumsi vitamin neurotropik sejak dini. "Vitamin neurotropik yang terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 akan membantu memberikan asupan yang dibutuhkan supaya saraf dapat bekerja dengan baik," tandasnya. (H-1)