Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BERDASARKAN data sejak tahun 1900 serta 'monitoring' iklim oleh BMKG selama lebih dari 70 tahun, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan bahwa perubahan iklim global adalah nyata dan berdampak pada peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian ekstrem, baik berupa kejadian cuaca atau hujan ekstrem, iklim ekstrem, ataupun kejadian anomali iklim global seperti La Nina dan El Nino.
El Nino merupakan fenomena cuaca di mana suatu wilayah mengalami kekeringan atau musim kemarau yang sangat kering dan panjang. Sementara La Nina adalah kebalikan dari El Nino di mana terjadi musim hujan yang basah dan panjang.
Baca juga: Akhir Tahun Lalu, 164 Ribu Wisman Datang ke Indonesia
"Sejak tahun 1950an berdasarkan data BMKG, fenomena El Nino maupun La Nina terjadi setiap lima sampai tujuh tahun. Namun, akibat meningkatnya suhu global membuat fenomena tersebut juga semakin sering yakni setiap dua sampai tiga tahun saja," jelas Dwikorita, Minggu (31/1).
Bahkan, Dwikorita menambahkan selama 2020 yang lalu merupakan tahun terpanas kedua di sepanjang sejarah, setelah 2016 (anomali +0,80 derajat Celcius), mengungguli cuaca yang terjadi di 2019 (anomali +0,60 derajat Celcius). Kondisi ini mirip dengan perubahan suhu global sebagaimana dilaporkan World Meteorological Organization (WMO) pada awal Desember 2020.
Selanjutnya, Deputi Klimatologi BMKG, Herizal , menjelaskan bahwa BMKG mencatat perubahan iklim jangka panjang telah terjadi di Indonesia dengan beberapa indikator.
"Pertama, tren konsentrasi gas rumah kaca (GRK) yang diukur di udara bersih (background) Indonesia pada Stasiun Pemantau Atmosfer Global (Global Atmosphere Watch-GAW) BMKG Bukit Kototabang, menunjukan laju peningkatan konsentrasi karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrous oksida (N2O), dan sulfur heksafluorida (SF6)," paparnya.
Hasil pengukuran CO2 pada Stasiun GAW BMKG Bukit Kototabang menunjukkan tren peningkatan CO2 yang sama dengan Stasiun GAW lainnya di dunia, seperti di Mauna Loa, Hawaii dan Baring Head, Selandia Baru. Awal pengukuran GRK background di Indonesia, pada tahun 2004, konsentrasi CO2 di Stasiun GAW BMKG Bukit Kototabang adalah 372 ppm (baseline), selanjutnya hasil pengukuran pada akhir Oktober 2020, konsentrasi CO2 di GAW Bukit Kototabang telah meningkat menjadi 408 ppm, sementara rerata global adalah 415 ppm.
“Analisis perubahan suhu udara rata-rata untuk seluruh wilayah Indonesia selama 71 tahun terakhir (1948 – 2019) menunjukan laju peningkatan suhu sebesar 0,030 derajat Celcius/tahun. Berdasarkan data dari 91 stasiun pengamatan BMKG, suhu udara rata-rata tahun 2020 adalah 27,30 derajat Celcius, lebih panas dibanding normal suhu udara rata-rata periode 1981-2010 yaitu 26,60 derajat Celcius,” sambung Herizal.
Herizal pun merekomendasikan agar setiap pemda selalu memonitor informasi cuaca yang dibagikan oleh BMKG agar bisa mengupayakan langkah adaptasi di tengah masyarakat. Sebab, kondisi iklim sangat berpengaruh terhadap sendi kehidupan masyarakat seperti yang berprofesi sebagai petani hingga nelayan yang sangat bergantung pada kondisi alam. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved