Ingin Kaya? Hilangkan Sikap Sinis

Ibnu Haykal/E-1
30/5/2015 00:00
Ingin Kaya? Hilangkan Sikap Sinis
(THINKSTOCK)
ADA yang mengatakan seorang pesimistis dan sinis tidak pernah kecewa.

Namun, mereka mungkin akan kecewa pada saat mengambil slip gaji bulanan.

Penelitian membuktikan seorang yang optimistis mampu mengumpulkan pendapatan tahunan rata-rata setara Rp40 juta lebih banyak ketimbang pendapatan yang diterima seorang yang sinis dan pesimistis.

Orang pesimistis melewatkan terlalu banyak potensi pendapatan karena mereka terlalu sering bersikap skeptis terhadap kesempatan bisnis yang datang.

Akademisi di Universitas Cologne, Jerman, mengatakan orang-orang yang sering menganggap orang lain tidak dapat dipercaya dan memiliki pandangan negatif terhadap dunia sekitarnya seringkali kehilangan kesempatan berharga dari suatu kerja sama.

Setelah diteliti selama sembilan tahun, orang-orang yang pesimistis dan skeptis tidak mengalami perningkatan pendapatan yang memuaskan.

Sebaliknya, orang-orang yang optimistis mendapatkan kenaikan pendapatan bulanan yang lebih tinggi.

"Penelitian-penelitian sebelumnya telah membuktikan kaitan sikap pesimistis/sinisme dengan hasil yang merugikan di berbagai bidang kehidupan, di antaranya kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, dan perkawinan. Penelitian ini membuktikan kaitan sinisme dan keberhasilan ekonomi," papar Dr Olga Stavrova dari Universitas Cologne, seperti dikutip The Telegraph, Kamis (28/5).

Psikiater olahraga Steve Peters yang telah berhasil melatih sejumlah bintang olahraga dunia menyatakan penanganan bagian negatif dari otak ialah kunci untuk mencapai keberhasilan.

Peters mengungkapkan setiap orang memiliki 'simpanse' dalam otak atau bagian dari otak yang mencoba untuk membunuh semangat untuk sukses dengan pikiran negatif, kemalasan, dan agresi.

"Anda harus mengenali kapan Anda sedang dikendalikan simpanse otak Anda. Pada saat itu Anda harus dapat menghentikannya dan mengelolanya."

Peneliti Universitas Cologne menjalankan studi terhadap 16.000 orang selama hampir 10 tahun dan menilai tingkat sinisme responden tersebut.

Mereka menemukan pengaruh pengalaman hidup tertentu, seperti lingkungan keluarga yang negatif atau kesulitan ekonomi, dapat memperkuat sikap sinis terhadap manusia lain sepanjang hidup seseorang.

Orang yang kurang beruntung secara finansial lebih cenderung menghubungkan situasi hidup mereka dengan keganasan lingkungan di sekitar.

Itu menghalangi mereka membangun aliansi kooperatif dengan orang lain sehingga pada akhirnya memperburuk situasi keuangan mereka.

Orang semacam itu akan terperangkap ke dalam spiral sinisme dan kegagalan ekonomi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya