(Remaja dan anak-anak etnik muslim Rohingya tengah belajar membaca dan menulis bahasa Indonesia yang diajarkan oleh relawan Sekolah Ceria di posko pengungsian Kuala Langsa, Aceh, Minggu (24/5)--MI/FERDIAN ANANDA)
DI tengah belenggu masa depan yang masih menghantu, para pengungsi Rohingya mencoba menghibur diri dengan beradaptasi di tempat mereka kini berteduh. Itulah yang dilakukan ratusan pengungsi Rohingya yang berada di salah satu tempat penampungan di Langsa, Aceh.
Dalam segala keterbatasan, mereka belajar bahasa Indonesia, bahasa Aceh, budaya, musik, dan kerajinan tangan serta cara memasak menu ala orang Indonesia. Mereka belajar dari para relawan yang sejak awal telah menunjukkan rasa empati.
Kemarin, ketika Media Indonesia melongok di tempat pengungsian, belasan anak-anak sedang belajar bahasa Indonesia dengan duduk bersila di bawah tenda biru. Udara terasa panas akibat matahari bersinar menyengat. Apalagi, tempat itu tidak jauh dari pantai.
''Sathu, dhua, tighaa, amphaat, limhaa, enhaam, tujuu, dhelapan, sepuluh,'' teriak Muhammad Sayes dengan logat Myanmar yang kental.
Bocah berusia 10 tahun itu mampu menghafal bilangan dalam bahasa Indonesia setelah belajar dua hari.
Tepuk tangan pecah tatkala Sayes mengucapkan kata-kata lain. ''Kephala, phundak, lutut, khaki...'' ujar Sayes sambil memegang tubuhnya. Selama ini, mereka terkendala oleh bahasa untuk berkomunikasi dengan pihak lain. Rata-rata mereka hanya mengerti bahasa Myanmar.
Anak-anak itu belajar di posko yang bernama Sekolah Ceria. ''Sekolah ini bertujuan memudahkan mereka dalam berkomunikasi dengan lingkungan. Ini akan lebih memudahkan mereka nantinya maka, selain bahasa Indonesia dan Aceh, mereka juga diajarkan bahasa Inggris,'' ujar Iskandar Darussalam, pendiri Sekolah Ceria Dompet Duafa.
Menurut Iskandar, saat ini ada 30 relawan yang mengabdi menjadi tenaga pengajar. Mereka ialah para pelajar dan mahasiswa dari sekolah dan penguruan tinggi di Langsa.
Selain mereka, Sekolah Ceria memanfaatkan tenaga dari pengungsi yang sudah mengerti bahasa Inggris. Selain dijadikan guru, ia menjadi penerjemah. ''Dengan demikian, tiga bahasa yang kita ajarkan juga bisa diartikan dalam bahasa Myanmar.''
Untuk mempermudah dalam mengajar, para relawan sering menggunakan media gambar seperti buah-buahan dan hewan.
Itulah peran sebagian anak bangsa yang tersentuh hatinya untuk meringankan beban sesama yang sedang menderita. Sampai kapan? Pemerintah Indonesia hanya memberikan tempat bagi para pengungsi yang jumlahnya lebih dari 1.700 jiwa itu dalam waktu satu tahun.(X-5)