Realitas Kalangan Atas tidak Seindah Dongeng

BBCNews/Anastasia Arvirianty/E-5
22/5/2015 00:00
Realitas Kalangan Atas tidak Seindah Dongeng
(MI/SENO)
MENJADI seorang miliuner terlihat menyenangkan.

Tak pelak, setiap orang bekerja keras untuk mendulang kekayaan.

Namun, realitas tidak seindah cerita dongeng.

Kaum borjuis justru memiliki setumpuk permasalahan dalam kehidupan mereka.

Ben Mezrich, penulis buku The Social Network, mengatakan kehidupan seorang miliuner tidak jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat awam.

Mereka bersedih dan memiliki kekasih yang tidak menelepon kembali.

Ada satu hal menonjol yang membuat mereka berbeda dengan orang biasa, yaitu kesulitan dalam mendidik anak mereka.

'Anak-anak yang lahir dan dibesarkan oleh keluarga miliuner sering memiliki banyak masalah, karena mereka memiliki daya juang yang rendah, sedangkan daya juang membuat kita kuat', tulis Mezrich dalam bukunya.

Kolumnis Quorra Philip Remaker melanjutkan orang kaya akan memanfaatkan kekayaannya untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Akan tetapi, kondisi itu membuat mereka dirundung kesulitan untuk membedakan mana teman yang sebenarnya, dan mana teman yang hanya memanfaatkan.

Permasalahan lainnya diungkapkan oleh Paul Sullivan.

Ia mengungkapkan uang yang berlimpah menjadi pemicu keretakan pernikahan.

Para kalangan atas begitu mudah melakukan perceraian karena mereka kurang memiliki motivasi untuk mempertahankan dan merajut sebuah hubungan.

Mantan Software Engineer Microsoft Gong Chen mengatakan seorang miliuner akan terus-menerus khawatir akan menjadi korban kriminalitas, seperti penculikan.

Mereka khawatir jika seseorang menyadap telepon dan menguping pembicaraan mereka.

Begitu juga dengan anak-anak yang memiliki orangtua superkaya.

Seorang putra miliarder yang ingin disembunyikan identitasnya mengatakan masalah itu akan dimulai pada masa sekolah.

Ketika rekan-rekan sejawatnya cemburu karena ayahnya mampu mencetak lebih banyak uang daripada orangtua lainnya.

"Apa yang banyak orang tidak mengerti meskipun ayah saya menjalani kehidupan yang sangat mewah sekarang (saat ini usianya 60) tidak berarti ia hidup mewah 10 tahun yang lalu," ungkap dia.

Kolumnis Quorra Saniya Bhutta memberikan catatan filosofis di tengah rentetan problematika sang taipan.

Kematian merupakan satu hal yang pasti, tidak peduli berapa banyak uang yang dimiliki.

Namun, jika di masa depan ilmu pengetahuan dapat membuat penemuan untuk memperpanjang hidup, seorang miliuner akan jadi yang pertama untuk dapat membayar demi itu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya