ANAK-ANAK Indonesia di jenjang SMA dan sederajat mempertahankan juara umum pada ajang International Science Project Olympiad (Ispro) ke-3 di Jakarta, yang ditutup pada akhir pekan lalu. Torehan 9 medali masing-masing 4 medali emas, 3 perak, dan 2 perunggu, sudah cukup bagi mereka untuk menggoreskan prestasi di olimpiade sains terapan itu. Dari 29 negara peserta, Indonesia yang mengirim 10 tim (20 siswa) menyingkirkan negara lain yang sudah memiliki tradisi kuat di bidang sains seperti Jerman, Turki, Malaysia, Bosnia Herzegovina, dan Tajikistan. Bahkan dua negara terakhir yang bersinar pada berbagai olimpiade sains, hanya duduk di posisi kedua dan ketiga.
Kedigdayaan para pelajar Indonesia diakui Ketua Dewan juri Ispro Riri Fitri Sari. Selama perhelatan tiga tahun Ispro, dia melihat semangat berprestasi dan berkompetisi pelajar Indonesia semakin baik. Prestasi dalam mencari masalah penelitian, mempelajari sumber belajar, memakai metodologi ilmiah, menyelesaikan masalah secara tuntas, serta mempresentasikan hasil kerja dalam bahasa Inggris sudah cemerlang ketimbang peserta dari negara lainnya.
"Ajang Ispro membawa anak-anak Indonesia makin percaya diri bahwa mereka mampu menjadi yang terdepan di berbagai bidang jika berusaha sungguh-sungguh,'' ungkap Riri, di Jakarta, kemarin. Guru Besar Fakultas Teknik UI itu menilai semangat prestasi penelitian anak-anak Indonesia harus dipelihara, bahkan ditumbuhkan pada anak-anak lainnya. Karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta pemerintah daerah mesti memberi kesempatan pada pelajar berprestasi untuk jadi pionir di lingkungan mereka. "Mereka dapat ditandem dengan siswa kelas di bawahnya oleh guru-guru yang berdedikasi tinggi untuk memacu siswa dalam meneliti dan kompetisi,'' ujarnya.
Riri pun menyarankan pemerintah perlu memberi ruang dan penghargaan bagi guru yang mampu menggerakkan siswa dalam mencatat dan menuliskan solusi bidang lingkungan hidup, fisika, kimia, biologi, dan teknologi. "Guru harus mendorong agar ide-ide baru dapat dituangkan jadi proyek sains yang menggairahkan siswa, hingga kelak dia bisa jadi ilmuwan untuk meningkatkan martabat dan peradaban,'' tukasnya.
Lebih membumi Terkait dengan prestasi itu, Direktur Pembinaan SMA Kemendikbud Haris Iskandar yang didampingi Kasubdit Peserta Didik SMA Suharlan mengatakan meski Indonesia mempertahankan juara umum, mereka tidak berpuas diri. "Kami tetap evaluasi agar budaya meneliti tumbuh berkembang di seluruh daerah, termasuk upaya pembinaannya lebih membumi."Di sisi lain, Kemendikbud akan bekerja sama dengan Kementerian Hukum dan HAM untuk memfasilitasi hak paten jawara Ispro 2015.
Kemendikbud pun akan berupaya menjembatani juara-juara Ispro 2015 yang berniat melanjutkan ke perguruan tinggi negeri (PTN). "Kami bakal sampaikan kepada pemerintah daerah dan rektor PTN terkait karena prestasi mereka sudah mencapai tingkat internasional," tukas Haris. Sementara itu, Dirjen Pendidikan Menengah Kemendikbud Achmad Jazidie menyampaikan proyek penelitian para peserta Ispro bisa menjadi solusi kreatif untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupan manusia. (H-2)