Berkreasi dengan Rotan

Dzulfikri Putra Malawi
09/5/2015 00:00
Berkreasi dengan Rotan
(MI/ADAM DWI)
GAJAH berwarna abu-abu dengan corak pink dan putih setinggi orang dewasa itu menyedot perhatian pengunjung di Summerland Bazaar di PIK Marketing Galery Pantai Indah Kapuk, Jakarta, kemarin.

Bukan hanya bentuknya yang lucu, gajah itu juga unik karena terbuat dari rotan.

Selain gajah, ada tokoh-tokoh kartun seperti Doraemon, Minion, dan boneka-boneka khas Inggris dalam berbagai ukuran yang dibuat dari rotan.

Produk-produk itu dibuat sangat rapi dan detail.

Mulai warna hingga bagian-bagian organ tubuh lainnya dikombinasikan dengan kayu, kertas, tali, pita, resin, plastik, besi, dan kulit.

Novita Simon, pemilik Doots Rattan, ialah ibu rumah tangga yang menggeluti usaha produk berbahan rotan sejak 2007.

Awalnya ia hanya fokus membuat bentuk kotak.

"Waktu itu saya ingin mencari keranjang rotan untuk anak saya sendiri. Dari sana saya melihat ada peluang bisnis," tuturnya tentang awal mula bisnisnya.

Hanya, dirinya mulai berkreasi dengan warna.

Novi, demikian panggilannya, memesan cat khusus berbahan air agar tidak berbau cat dan berbahaya bagi anak-anak.

Produknya sering digunakan sebagai tempat cendera mata saat acara ulang tahun.

"Bisnis ini mulai jalan dan banyak peminatnya karena menawarkan warna-warni yang unik," ungkapnya kepada Media Indonesia.

Selain berkreasi dengan warna, ia mulai berkreasi pada gagang boksnya.

Kalau di pasaran hanya menggunakan rotan polos, Novi menggunakan anyaman pada gagang tersebut.

Produknya saat itu menjadi langganan pengirim parsel dan keranjang hantaran pernikahan.

"Saat itu saya berpikir keranjang parsel rotan ini tidak hanya dilihat dari isinya, tapi juga bentuk rotannya. Kemudian saya mulai terpikir untuk membuat bentuk-bentuk yang unik," ujarnya.

Maka tak mengherankan jika setiap kali acara, para tamu justru mengantre untuk mendapatkan cendera mata yang dibungkus produk Novi itu terlebih dahulu baru mengikuti acara.

Enam tahun berselang, perempuan yang akrab disapa Novi itu kemudian berekspansi dengan mengkreasikan berbagai bentuk tokoh kartun dan boneka.

Namun, tidak hanya berbentuk mirip dengan aslinya, kreasi rotan Novi masih memiliki fungsi yang sama untuk menyimpan barang di dalamnya.

Tingkat kerumitan

Membuat kreasi dari rotan ini bukanlah hal yang mudah karena memiliki tingkat kerumitan sendiri.

Setiap bagian dibuat sedetail mungkin, kemudian disatukan menjadi sebuah kreasi yang mirip dengan aslinya, mulai warna hingga detail aksesori yang digunakan.

Novi mengaku sampai saat ini belum menemukan cara agar produknya bisa dibuat dengan cepat guna meningkatkan kuantitas penjualan.

Karena itu, Novi fokus pada kualitas produknya.

Untuk membuat satu boneka kreasi saja perbandingannya sama dengan membuat lima keranjang biasa dengan gagang yang sudah dimodifikasi.

Karena rumit, harga jualnya otomatis lebih tinggi ketimbang keranjang biasa.

Namun, harga itu tidak menjadi masalah bagi pelanggan Novi.

"Kualitas barang dan keunikan memiliki nilai tersendiri yang tidak bisa dibandingkan dengan produk biasa," lanjutnya.

Satu produk kreasinya dibanderol Rp175 ribu-Rp600 ribu, sedangkan produk keranjang biasa hanya Rp70 ribu-Rp100 ribu.

Omzet kotor yang dihasilkannya bisa mencapai Rp50 juta per bulan.

"Pangsa pasar untuk keranjang biasa memang lebih besar dan terus ada karena kebutuhan kuantitasnya yang banyak seperti untuk acara perkawinan dan ulang tahun. Sementara itu, untuk yang kreasi merupakan pembeli satuan, hanya beberapa kali diproduksi dalam jumlah banyak untuk sebuah acara," papar Novi.

Kini Novi mempekerjakan 10 karyawan termasuk pengrajin dan pengemas.

Ia sendiri bertindak sebagai pengontrol kualitas.

Dalam sebulan Doots Rattan mampu membuat produk kreasi 20-30 buah.

Sementara itu, produk keranjang model biasa selalu dibuat dalam jumlah banyak karena itu menjadi pendapatan utamanya.

Membuat perajinnya mampu mengerjakan kreasi yang diotaki Novi tidaklah mudah.

Dengan sabar Novi memberikan pengarahan kepada para pekerjanya.

Ia mengaku banyak yang tidak berani.

Namun, dirinya selalu meyakinkan dengan menjajaki untuk membuat kreasi secara bertahap mulai bagian yang mudah dulu seperti topi kemudian beranjak yang lebih sulit.

"Kami tidak bisa memaksa mereka sampai bisa di tahap apa. Yang penting harus berani mencoba dulu," pungkasnya.

Kursi rotan
Bila Novi berkreasi memproduksi boneka dan tokoh kartun, Ngadiyono, 44, menggeluti usaha pembuatan kursi makan dari rotan selama 17 tahun terakhir.

Bahkan produk meja makan warga Kampung Jamur, Desa Trangsan, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, itu pernah dipesan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Ia memesan meja makan dengan sandaran berbentuk kubah yang dibanderol Rp9 juta.

Desa Trangsan memang dikenal sebagai sentra pembuatan rotan.

Hampir seluruh warganya menggantungkan hidup pada pekerjaan ini.

Bersama tiga karyawannya, rata-rata produk yang dihasilkan Ngadiyono dihargai pabrik sebesar Rp210 ribu per buah.

Namun, Ngadiyono dapat tersenyum lebar lantaran tiga bulan terakhir mampu mendulang omzet hingga Rp100 juta.

"Model memang memengaruhi harga, saya hanya menerima orderan dalam jumlah banyak. Makanya jarang berkreasi. Belum lama ini bikin yang diminta (Presiden Barack) Obama saya hargai lebih mahal. Tergantung permintaan dari pabrik ekspornya saja," ungkap ayah tiga anak itu. (M-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya