Indonesia Akan Kuat Dengan Membangun Kawasan Indonesia Timur
MI/Bay
06/5/2015 00:00
(MI/Rommy Pujianto)
Ketimpangan pembangunan dan kesejahteraan di kawasan Indonesia Timur dan Indonesia Barat terus diupayakan dipersempit jaraknya oleh pemerintah.Hal ini penting agar tidak timbul gejolak di masyarakat agar tidak berdampak yang tidak harapkan,seperti munculnya gerakan separatis. Peneliti Sejarah Universitas Gajah Mada (UGM) ,Arif Subekti mengemukakan gerakan separatisme tidak selalu diartikan sebagai gerakan memisahkan diri sebab makna gerakan separatisme tidak tunggal. Salah satu Inti penyebab separatisme keinginan menuntut hak keadilan atas kekayaan alam yang ada di wilayahnya. Mereka menuntut perhatian pemerintah.
"Separatisme merupakan bentuk pelabelan pemerintah terhadap gerakan rakyat. Separatisme muncul karena ketidakadilan dan keterbelakangan ekonomi juga bentuk ekspresi lokal yang meminta perhatian lebih dari pusat. Seandainya pemerintah memberikan perhatian lebih, separatis tidak akan terjadi," cetus Arif Subekti pada diskusi 'Cahaya Timur untuk Persatuan dan Kesatuan Indonesia' yang digelar Solidaritas Pergerakan Aktivis Untuk Indonesia (SUROPATI), di kampus UGM, DIY,melalui rilisnya kepada pers,Rabu malam (6/5).
Ketua Dewan Penasihat Pattimura, DIY, Ir. Jacky Latupeirisa, menyatakan Indonesia bagian Timur sejatinya memiliki skill atau keahlian tinggi karena ditempa alam dan sumber daya makanan bergizi seperti ikan. Namun kekurangan orang timur adalah tidak sabar dan ulet seperti orang Jawa. Hemat dia, jika belajar ulet seperti orang Jawa, maka timur akan bercahaya.Pasalnya, Indonesia timur dikelilingi lautan dan kekayaan alam melimpah. Ia menegaskan Indonesia timur hanya butuh pemerataan dan tidak mau melakukan gerakan separatis yang memisahkan diri dari NKRI. Ia mencontohkan illegal fishing banyak terjadi di kawasan laut timur yang membuktikan kekayaan alamnya melimpah. Ia berharap generasi muda Indonesia timur yang kuliah di Jawa harusnya punya daya tarik lebih karena punya karakter orang timur tangguh dan juga menyerap karakter Jawa yang ulet.
"Suatu saat anak-anak dan generasi muda Indonesia timur harus kembali pulang kampung membangun tanah kelahirannya," tegasnya. Aktivis pemuda NTT,Carlos Rogger Evantino mengutarakan pentingnya menengok sejarah sebelum Indonesia merdeka. Saat itu , persatuan pemuda-pemuda Nusantara melibatkan pemuda-pemuda Indonesia timur seperti Jong Java, Jong Sumatren dan Jong Ambon. "Ini bukti sejarah bahwa rasa kebangsaan orang Indonesia Timur sudah ada bahkan tahun 1949 Prof Herman Yohanes dari NTT ikut berkontribusi dalam mempertahankan Indonesia,"cetusnya.
Herman Yohanes pernah menjadi rektor kedua UGM, hal ini menunjukkan kontribusi orang-orang Indonesia timur dalam pembangunan sejarah. Ia melanjutkan harus diperkuat dialog dan perhatian yang lebih, bukan melakukan nasionalisme yang agresif-militeris dengan mencap Indonesia timur sebagai separatis yang tidak nasionalis. Ia juga meminta orang-orang Indonesia timur mengkritik perilaku elite lokal yang suka mengeksploitasi Indonesia timur sendiri.
Carlos mengusulkan perlu dibuat kontra skema dengan melihat Indonesia mulai dari timur, membangun kawasan Indonesia timur bercahaya demi Indonesia yang kuat. Diskusi yang digelar Suropati itu terkait pergeseran geopolitik dunia dari laut Atlantik ke Asia Pasifik yang harus dicermati.Pasalnya, ke depan, Asia Pasifik akan menjadi pertarungan ekonomi, budaya, politik bahkan militer di dunia guna menguasai pasar, sumber daya dan jalur perdagangan. Suropati merekomendasikan Indonesia harus segera berbenah diri menghadapi tantangan geopolitik dunia. Wilayah Indonesia Timur harus segera diberi perhatian lebih dan dibangun secara terencana dengan baik.