PENGELUARAN pekerja untuk biaya transportasi meningkat dua kali lipat pada 2015 bila dibandingkan dengan 2010.
Itu berdasarkan hasil survei yang dilaksanakan Regus Plc, perusahaan penyedia solusi bisnis global asal Brussels, Belgia.
Survei yang mengambil responden sebanyak 44 ribu orang tersebut mendapati para pekerja Belgia menghabiskan sekitar 5% gaji mereka untuk biaya perjalanan menuju tempat kerja.
Kendati begitu, para responden yang menjadi objek penelitian juga mengungkapkan bekerja dari rumah bukanlah solusi atas masalah inefisiensi waktu dan biaya.
Senada dengan responden, Presiden Direktur Regus Indonesia Charles Rossi mengatakan bekerja di rumah bukanlah solusi untuk memecahkan persoalan biaya transportasi yang kian memberatkan.
Pasalnya, rumah tidak memiliki infrastruktur yang menunjang pekerjaan sebagaimana kantor.
Pun, atmosfer di rumah sangat kontras dengan lingkungan kantor, kurang mendukung suasana kerja.
"Tidak semua orang bisa bekerja dengan efektif di rumah," ujar Rossi ketika memaparkan hasil survei tersebut di Jakarta, awal pekan ini.
Porsi biaya tranportasi yang sebesar 5% di Belgia tersebut masih lebih rendah ketimbang beban pekerja di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang (Jabodetabek).
Pekerja Jabodetabek rata-rata menanggung beban biaya transportasi 10%-30% dari pendapatan.
Kondisi itu dipastikan akan makin parah dengan tingkat kemacetan lalu lintas jalan yang kian tinggi.
Di sisi lain, sistem transportasi publik belum dapat diandalkan, baik dari sisi daya tampung maupun ketepatan waktu.
Pelaku bisnis yang juga anggota Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Nina Tursinah mengungkapkan dunia usaha saat ini membutuhkan lokasi perkantoran yang tidak macet dan mudah diakses, bukan lagi menyasar segmen daerah premium.
"Lokasi yang penting ialah mudah diakses dari mana pun dan tentunya harus memiliki fasilitas yang lengkap serta memenuhi standar K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) gedung," tutur Nina yang juga menjabat Ketua Bidang Industri Kecil dan Menengah dan Usaha Kecil dan Menengah Apindo.
President Director of Prima International Cargo Imam Wartomo menambahkan, lokasi itu bergantung pada kebutuhan bisnis.
"Tidak harus di kawasan 'segitiga emas'," katanya.
Bila bisnis menyangkut kebutuhan aktivitas ekspor dan impor, perkantoran yang dekat dengan tol ialah pilihan utama.
Menurut Imam, perusahaan yang bergerak di bidang usaha transportasi atau angkutan logistik, mengutamakan lokasi yang dekat dengan akses jalan tol untuk kemudahan dan kelancaran arus barang.
Perkantoran di lokasi tersebut, menurut Imam, melengkapi gudang yang ditempatkan di kawasan pelabuhan udara dan laut.