RIUH penerimaan mahasiswa baru terdengar kembali sejak awal 2015.
Tahap pertama dimulai dengan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) 2015 yang pengumumannya dilangsungkan pada 9 Mei mendatang.
Masih ada dua jalur lagi untuk masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN), yaitu seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) dan ujian mandiri (UM).
Setiap kuota amat terbatas.
Menurut Ketua Panitia SNMPTN 2015, Rochmat Wahab, daya tampung SNMPTN, SBMPTN, plus UM hanya 300 ribu-an kursi.
Sementara, jumlah peserta SNMPTN 2015 saja telah menyentuh 852.093 orang.
Mereka semua akan berebut mencari tempat di 63 PTN yang diikutsertakan dalam SNMPTN 2015.
Meski menyandang nama besar dan mendapat subsidi dari pemerintah, kualitas PTN-PTN tersebut belum tentu sama.
Bahkan, ada PTN yang kualitasnya malah jauh di bawah PTS.
Sebagai rujukan, Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) mencatat, saat ini baru 42 PTN dan 104 PTS di Indonesia yang terakreditasi.
Sementara, jumlah PTN dan PTS ribuan jumlahnya.
Menurut Pangkalan Data Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti), Indonesia memiliki 364 PTN dan 3.909 PTS.
Saat ini, ribuan PTS itu telah menyerap 3,8 juta mahasiswa.
Angka berbeda disebutkan oleh Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BPPTSI) soal jumlah PTS di Indonesia saat ini.
"Jumlah PTS ada 3.400," ujar Ketua Umum BPPTSI Thomas Suyatno ketika dihubungi Media Indonesia, di Jakarta, Rabu (29/4).
Ia mengatakan, kesenjangan mutu di antara PTS masih besar.
Hanya sekitar 20% di antaranya yang masuk dalam kriteria 'sehat murni' dan cuma 14% yang terdapat dalam kriteria 'sehat'.
"Kualitasnya sangat variatif dan dibagi ke dalam empat kriteria, yaitu 'sehat murni', 'sehat', 'hampir sehat', dan 'belum sehat'," paparnya.
Semua penilaian didasarkan atas sembilan norma, di antaranya ialah badan penyelenggara yang memiliki keabsahan hukum, ketiadaan konflik internal dan eksternal, serta tidak memiliki kelas jarak jauh kecuali dengan seizin Dikti.
Selain itu, PTS tersebut juga memiliki dosen tetap sebanyak minimal 75% dari jumlah seluruh dosennya.
Rasio jumlah dosen dan mahasiswa pun harus 1:30 untuk program studi ilmu sosial dan 1:45 untuk ilmu eksakta.
Yang lainnya menyangkut penilaian pada proses belajar mengajar, saran prasarana pendidikan, hingga kelengkapan data PTS pada Pangkalan Data Dikti.
"Kualitas sarana prasarana khususnya berkaitan dengan laboratorium dan perpustakaan," papar Thomas.
Ia mengatakan, penilaian pada hal-hal tersebut dapat dilihat di laman daring Dikti untuk dijadikan acuan calon mahasiswa baru dalam menentukan pilihan.
Di tengah semakin banyaknya pilihan terhadap PTS, Thomas mengharap institusi pendidikan tinggi swasta kini berinvestasi lebih banyak pada laboratorium, perpustakaan, dan sumber daya pengajar demi peningkatan kualitas. Kedepankan kualitas Fenomena kemunculan banyak PTS baru di Indonesia amat disadari oleh salah satu universitas swasta tertua Nusantara, yakni Universitas Jayabaya.
Kepala Hubungan Masyarakat dan Pemasaran Universitas Jayabaya Yulia Moeslim Taher mengajak semuanya bersaing secara sehat dengan mengedepankan kualitas.
Agar dapat kompetitif, universitas yang telah berdiri sejak 1958 itu, kata Yulia, telah membuat lembaga penjamin mutu internal.
Fungsinya membuat standardisasi, peningkatan kualitas tenaga pengajar, dan kegiatan belajar mengajar.
Sarana prasarana seperti laboratorium juga terus diperbarui mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
Status semua fakultas di Universitas Jayabaya sudah pula terakreditasi.
"Yang masih 'akreditasi B' akan kami tingkatkan. Yang 'akreditasi A', kami pertahankan," tandas Yulia yang juga dokter gigi ini.
"Fakultas-fakultas kami sudah menerapkan e-Learning (pembelajaran berbasis internet). Kelas tidak selalu tatap muka, tugas dari dosen juga diberikan melalui itu karena jaringan wifi sudah bagus. Perpustakaan hukum juga sudah berbasis internet," ucap Yulia. (S-4)