FELKIZA Vinanda, 24, tidak pernah menyesali keputusannya untuk pindah jurusan dan pindah kampus pada 2010 lalu.
Keputusan tersebut bahkan menjadi berkah tersendiri bagi Felkiza.
Di jurusan dan kampus baru, prestasi akademisnya melambung.
Ia bahkan lulus dengan predikat cumlaude.
"Di kampus baru, jadi semacam menemukan passion yang terpendam karena bergelut dengan tulis-menulis. Itu memang kesukaan aku. Sejak kecil, aku hobi baca dan menulis," kata Kiza, sapaan Felkiza, saat dihubungi di Jakarta, kemarin.
Kiza lulus dari Jurusan Sastra Inggris, Universitas Kristen Petra, pada Februari 2014 lalu dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,82.
Sebelumnya, Kiza berkuliah di jurusan desain komunikasi visual di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Jawa Timur.
Di kampus lamanya, Kiza mengaku merasa tertekan dan kehilangan motivasi belajar.
"Waktu kuliah di desain itu, selama lebih dari setahun, aku kayak enggak ada motivasi apa-apa untuk maju. IPK enggak pernah nyampe 3. Semangatnya cuma pas ketemu teman-teman, kuliah dan belajarnya enggak. Kondisi perkuliahannya pun bikin enggak nyaman, banyak ditekan senior dan dosen," ungkapnya.
Kini, Kiza tengah melanjutkan pendidikan S-2 di Australia.
Kiza mengaku beruntung memiliki orangtua yang mendukung sepenuhnya apa pun pilihan studi yang ia inginkan.
Jika telah lulus nanti, Kiza berharap bisa berkarier di dunia tulis-menulis.
"Pengennya jadi reporter, editor, atau bahkan bikin media sendiri. Aku sih ngerasa beruntung soalnya orangtuaku bisa dibilang ngebebasin aku banget soal pilihan karier atau kuliah. Yang penting belajarnya benar," cetus dia.
Lain Kiza, lain pula Aditya Nugraha, 19. Adit, sapaan Aditya, saat ini sudah dua semester berkuliah di fakultas hukum di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.
Adit mengaku sedikit 'dipaksa' oleh orangtuanya ketika untuk kuliah di fakultas hukum.
"Padahal aku merasa lebih senang desain grafis atau IT. Kuliahnya jadi enggak beres karena aku enggak suka. Aku sudah ngomong panjang sih sama orangtua. Akhirnya mereka ngebolehin untuk pindah kuliah. Sekarang lagi cari-cari mau kuliah di mana yang jurusan IT-nya bagus," kata dia. Ikuti psikotes Menurut Associate Psycholog Institute for Community Behavioral Change (ICBC) Yogyakarta Lucia Peppy Novianti, 'penyakit salah jurusan' memang kerap melanda para calon mahasiswa.
Agar tidak salah pilih, Peppy menyarankan agar para pelajar atau calon mahasiswa mencari tahu minat dan bakat yang ada dalam diri mereka masing-masing.
"Minat berarti bidang yang disukai, sedangkan bakat merujuk pada potensi yang ada dalam dirinya, baik dari segi kognitif atau kemampuan berpikir maupun aspek kepribadiannya. Pilihan jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat akan membuat seseorang unggul dalam bidang yang ditekuni," jelas dia.
Cara paling mudah dan paling akurat untuk mengetahui apa yang menjadi bakat dan minat seseorang, lanjut Peppy, ialah dengan mengikuti psikotes.
Namun, harus dipastikan bahwa psikotes tersebut dilakukan ahli kompeten, yakni psikolog.
"Karena jika tidak, bisa jadi hasil yang diterima justru malah semakin membingungkan karena tidak sesuai dengan apa yang dialami ataupun terlalu umum sehingga tidak memberikan informasi yang jelas," ujarnya.
Meski demikian, Peppy menambahkan, minat dan bakat juga bisa diindikasikan dari keseharian seseorang.
Bakat, misalnya, bisa dilihat dari seberapa cepat kita mempelajari atau menguasai pengetahuan baru.
"Misalnya kita lihat seseorang bikin kerajinan. Kita pelajari dan kemudian kita dengan cepat bisa mengikuti proses pembuatannya dan membuat kerajinan yang sama. Dapat dimaknai kita memiliki bakat dalam hal tersebut," ujar alumnus Magister Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada itu.
Adapun minat umumnya menggambarkan apa yang kita sukai atau preferensi kita.
Mengetahui apa yang disukai cenderung lebih mudah karena biasanya sudah disadari pelajar yang bersangkutan, semisal dengan memerinci mata pelajaran favorit atau mata pelajaran yang menjadi 'musuh'.
Di luar konteks pembelajaran formal, minat juga merupakan awal dari sebuah hobi atau kegemaran.
Jika seseorang memiliki minat yang banyak dan tersebar, Peppy menyarankan untuk memeringkat kualitas preferensi atas ragam minat tersebut.
"Lakukan proses me-ranking secara tertulis karena proses menulis akan memberi bantuan tersendiri ketika kita sedang dilanda kebingungan untuk memilih," jelasnya.
Lebih jauh, Peppy menjelaskan, berbagai dampak negatif bisa muncul jika seorang anak dipaksakan memilih jurusan yang tidak sesuai dengan minat dan bakatnya, mulai prestasi belajar yang kurang optimal, kondisi psikologis yang bermasalah, hingga yang paling ekstrem semisal penyalahgunaan obat terlarang, keterlibatan pada kelompok sebaya yang cenderung negatif, pacaran tidak sehat, dan dikeluarkan dari kampus.
"Ada pula beberapa mahasiswa yang tetap dapat mengikuti proses perkuliahan yang sebetulnya bukan menjadi jurusannya. Namun, proses belajarnya biasanya lebih berat dan penuh tekanan. Apabila kemudian lulus, biasanya juga tidak menjadi ahli di bidang tersebut karena ilmu yang dipelajari tidak betul-betul dihayati dan ditingkatkan menjadi skill bagi dirinya," kata dia.
Dalam proses memilih jurusan, Peppy tidak menafikan peran orangtua.
Pasalnya, usia SMA masih tergolong pada fase remaja sehingga emosi dan pikirannya mudah bergejolak.
"Kondisi paling ideal ialah ketika orangtua dapat memfasilitasi pilihan anak," tandasnya. (S-1)