Antisipasi Paparan Sinar Matahari

Theodora Luna/H-1
29/4/2015 00:00
Antisipasi Paparan Sinar Matahari
(THINKSTOCK)
NODA hitam pada wajah merupakan salah satu dampak paparan sinar matahari pada kulit yang tidak terlindungi oleh tabir surya.

Kepala Bidang III Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski) dr Abraham Arimurko menjelaskan terdapat dua jenis sinar ultraviolet (UV) yang berdampak pada kulit manusia, yaitu UV A dan UV B. Paparan UV B efeknya langsung terlihat, sedangkan UV A baru dapat terlihat dalam jangka beberapa tahun kemudian.

"Penetrasi UV A lebih dalam, yang kena itu serabut-serabut kolagen, sehingga kulit lebih cepat tipis, kusam, berkerut, dan kendur. Ya salah satu efeknya noda hitam yang baru muncul saat orang beranjak tua," ungkap pria yang akrab disapa Ari, ketika ditemui pada konferensi pers kampanye produk Nivea bertajuk Enjoy The Sunshine Goodness di Jakarta, Kamis (23/4).

Dalam jangka panjang, jelasnya, kulit yang tidak terlindungi dapat berdampak fatal bagi kesehatan. Salah satunya ialah risiko kanker kulit.

"UV A menembus ke dalam kulit, membuat mutasi genetik yang merusak DNA. Itu bahaya setelah mutasi gen bisa kena kanker. Jadi kulit yang tumbuhnya normal lama-lama tumbuh kanker."

Ari mengungkapkan salah satu cara menjaga kulit ialah dengan menggunakan tabir surya. Penggunaan tabir surya terutama dilakukan pada pukul 09.00-15.00 WIB, saat matahari sudah tidak 'ramah' bagi kulit manusia. Dermatologis RSPAD itu menyatakan penggunaan tabir surya tergantung kebutuhan dan aktivitas setiap individu.

"Untuk kebutuhan sehari-hari ke kantor ya, 20-30 sun protection factor (SPF) cukup. Mau di atas itu juga tidak apa-apa, asal nyaman dipakai. Tapi kalau mau main golf tentu butuh SPF lebih tinggi."

Ia mengingatkan pemakaian tabir surya harus diulang dalam jangka waktu 1-2 jam, karena tabir surya luntur kena keringat. "Untuk yang berenang, cari tabir surya yang tahan air, karena percuma sudah pakai tabir surya tapi luntur kena air," tambahnya.

Selain memperhatikan kadar SPF, Ari mengungkapkan sebaiknya konsumen memilih tabir surya yang juga mencantumkan tingkat protection ageing (PA). PA merupakan kemampuan tabir surya melipatgandakan daya tahan alami kulit dalam melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari, khususnya UV A.

"Sejak dulu sudah ada SPF untuk preventif dengan UV B. Tapi kalau ada SPF dan PA, itu berarti produk sudah tahu bahwa melindungi dari UV A dan B, sehingga lebih aman."

Ari menambahkan, faktor tinggi rendah PA dilihat dari tanda '+' (plus) yang mengindikasikan kekuatan PA tabir surya tersebut. Semakin banyak tanda '+' yang dimiliki oleh tabir surya, semakin tinggi proteksinya terhadap kulit manusia. "Jadi sebagai konsumen, kita juga harus memperhatikan keterangan di kemasan. Tanda '+' berarti 2x lebih kuat, '++' berarti 4x lebih kuat, dan '+++' artinya 8x lebih kuat. Rekomendasi untuk kulit Asia paling sedikit PA ++, karena matahari di Indonesia cukup ganas," tandasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya