Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KANKER muncul akibat pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali dan pelan-pelan menghancurkan jaringan tubuh. Pencarian obat kanker telah dilakukan sejak lama, tapi belum satu pun yang berhasil menyembuhkan sepenuhnya.
Di Indonesia, angka kejadian kanker mencapai 1,79% per 1.000 penduduk dan kanker payudara yang merupakan kasus terbanyak mencapai 30,9% dari total kasus. Tidak sedikit yang berujung pada kematian.
Tingginya angka prevalensi kanker tersebut membuat peneliti mengembangkan berbagai riset obat antikanker, salah satu yang melakukannya ialah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Dari riset sejumlah organisme laut selama lebih dari lima tahun, LIPI akhirnya memfokuskan diri untuk meneliti spons laut, dari jenis Melophlus sarassinorum, mikroba yang berasosiasi dengan spons laut dan mikroba laut dalam, hingga teripang.
“LIPI mengoleksi 50 jenis teripang untuk dikembangkan sebagai adjuvant antikanker. Fokus kami saat ini Holothuria scabra (teripang pasir) karena sudah bisa dibudidayakan,” kata Peneliti LIPI Masteria Yunovilsa Putra kepada Media Indonesia, kemarin.
Teripang, trepang, atau timun laut ialah nama yang disematkan padahewan invertebrata Holothuroidea. Ada sekitar 1.400 spesies timun laut di seluruh dunia. Selain dijadikan makanan, masyarakat di Tanah Air juga telah menggunakan teripang sebagai obat karena dipercaya memiliki manfaat kesehatan.
Masteria menuturkan, salah satu senyawa yang dimanfaatkan dari teripang ialah Holothurin A. Bahan aktif tersebut diketahui memiliki fungsi mencegah metastasis kanker hingga membunuh sel kanker payudara dan kanker ovarium.
Kepala Balai Bio Industri Laut LIPI Ratih Pangestuti mengungkapkan bahan aktif untuk pencegahan kanker dengan memanfaatkan organisme laut ditujukan untuk mematikan radikal bebas dalam tubuh. Dengan demikian, dapat meningkatkan ketahanan tubuh.
“Radikal bebas ini kan jika terusmenerus ada di dalam tubuh, akan merusak makromolekul, seperti DNA, protein, lemak yang dapat memicu kanker,” tandasnya. (Atalya Puspa/H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved