Lakukan Pemeriksaan Mandiri sebelum Hipertensi Mengganas

MI
27/5/2020 04:55
Lakukan Pemeriksaan Mandiri sebelum Hipertensi Mengganas
(123RF)

SEDIKITNYA 63 juta orang atau sebesar 34,1% penduduk di Indonesia menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi. Dari jumlah itu, hanya sebesar 8,8% terdiagnosis hipertensi dan hanya 54,4% dari yang terdiagnosis hipertensi rutin minum obat.

Semasa pandemi covid-19, para pasien hipertensi ini ialah kelompok yang akan menghadapi risiko komplikasi lebih parah jika terinfeksi oleh virus korona baru, demikian menurut pernyataan American Heart Association (AHA).

Faktanya, kata Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi (Perhi) Tunggul D Situmorang, sebagian besar pasien covid-19 yang meninggal di Indonesia memang mengidap penyakit hipertensi dengan komorbiditas penyakit kronis lainnya seperti jantung, ginjal, diabetes, hingga stroke.

Untuk itu, sambung Tunggul, dalam masa pandemi covid-19 seperti sekarang ini, pihaknya mengimbau masyarakat agar lebih peduli untuk secara teratur melakukan pemeriksaan tekanan darah di rumah (PTDR).

“Apabila pada pasien hipertensi muncul gejala awal covid-19 seperti meningkatnya suhu tubuh, sesak napas, batuk kering, dan sebagainya, segera berkonsultasi kepada dokter,” ucap Tunggul saat memperingati Hari Hipertensi Dunia yang jatuh pada 17 Mei lalu.

Tunggul mengingatkan, hipertensi tidak bergejala karena itu sering disebut dengan si pembunuh senyap atau silent killer. Sebagian besar penderita tidak menyadari telah mengalami hipertensi sampai datang kerusakan parah di dalam tubuhnya.

“Hipertensi merusak organ-organ penting antara lain otak, jantung, ginjal, pembuluh darah besar, sampai ke pembuluh darah kecil,” beber Tunggul.

Menurutnya, banyak penelitian yang menunjukkan PTDR mempunyai nilai prognostik yang lebih baik daripada pemeriksaan tekanan darah di klinik. Spesialis saraf Ekawati Dani Yulianti menambahkan, hipertensi tidak dapat disembuhkan secara total. Namun, pengobatan rutin, tata
laksana, dan penerapan gaya hidup sehat mampu mencegah komplikasi serius, terlebih di saat akses pengobatan menjadi terbatas ketika pandemi ini.

Menurut Ekawati, covid-19 pada pasien hipertensi tidak hanya menyebabkan gangguan saluran pernapasan, tapi juga komplikasi langsung di jantung, otak, dan ginjal seperti serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal akut.

Selain itu, imbuhnya, umum terjadi sindrom pengentalan dan penyumbatan pembuluh darah, infeksi bakteri dan/atau jamur lain, kerusakan otot dan saraf tepi, serta proses autoimun yang tentunya memperburuk prognosis.

“Tetap mengonsumsi obat, menjaga jarak, rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan, dan saran lainnya untuk mencegah tertularnya virus covid-19,” pungkas Ekawati. (Ata/H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya