Tetap Waras Hadapi Pandemi

Ferdian Ananda Majni
27/5/2020 04:30
Tetap Waras Hadapi Pandemi
(Kemenkes/Alodokter/tim riset MI-NRC/Grafis: Seno)

BUDI merasa sangat ketakutan. Tubuhnya lemas tak bertenaga, keringat terus bercucuran, jantungnya berdebar-debar, terkadang napasnya sesak, perut terasa mual dan kembung, kepalanya pusing, seakan-akan menemui ajal.

Dokter menyebut ada infeksi, tetapi tidak diketahui apa penyebabnya. Budi hanya diminta untuk isolasi mandiri selama 14 hari. Ia dikurung di dalam kamar, tidak boleh keluar. Kondisi itu sangat menyiksa Budi yang memiliki kepribadian supel, senang bergaul dan bertemu banyak orang.

Waktunya dihabiskan dengan mencari tahu berbagai informasi tentang covid-19 secara berlebihan. Meski sudah dinyatakan negatif setelah melakukan tes cepat covid-19, Budi masih ketakutan apabila mendengar kata covid-19 dan panik ketika mendengar suara ambulans.

Dari layanan swaperiksa masalah psikologis secara daring terhadap 1.522 pelapor di laman www.pdskji.org, diketahui, ada 64,3% pelapor yang mengalami kecemasan berlebihan atau depresi. Gejala yang dialami Budi, misalnya, ialah gangguan kecemasan atau ansietas disertai trauma psikologis covid-19.

“Gejala cemas dan depresi yang dirasakan ialah rasa takut dan khawatir berlebih, merasa tidak bisa rileks dan nyaman, mengalami gangguan tidur, dan kewaspadaan berlebih. Kita juga temukan adanya gangguan stres pascatrauma psikologis,” kata psikiater dr Lahargo Kembaren SpKJ dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), belum lama ini.

Lahargo menyatakan kecemasan dan kekhawatiran bisa muncul akibat terlalu banyak menonton, membaca, dan mendengar informasi secara berlebihan.

“Mengambil jarak sejenak dari informasi tersebut akan baik bagi kesehatan jiwa kita,” sebutnya.

Untuk mengatasi berbagai kondisi perasaan yang tidak nyaman akibat covid-19, ujarnya, lakukanlah hal-hal yang positif seperti berolahraga, melakukan aktivitas yang produktif, menjalankan hobi, istirahat yang cukup, dan tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang dapat merusak kesehatan.

“Kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fi sik. Jangan ragu-ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional kesehatan jiwa,” pungkasnya.


Turunkan imun

Spesialis kedokteran olahraga dr Zaini K Saragih SpKO mengungkapkan stres bisa menurunkan imunitas tubuh seseorang karena pasokan darah, oksigen, dan nutrisi yang tidak baik pada keseluruhan organ tubuh.

Kondisi stres psikis memiliki kesamaan seperti saat seseorang melakukan olahraga berat. Pembuluh darah akan bekerja lebih keras untuk mengalirkan 25 liter darah yang dipompa jantung ke seluruh tubuh dalam waktu 1 menit.

Dalam kondisi olahraga berat, aliran darah yang membawa oksigen, energi, dan berbagai macam nutrisi dari makanan tersebut lebih banyak disalurkan ke otot  sehingga organ lain sedikit mendapatkan asupan darah.

Kondisi berkebalikan ketika seseorang sedang istirahat dan rileks yang hanya menyalurkan 5 liter darah per menit, tetapi pasokan darah terbagi secara merata untuk seluruh organ tubuh. (Ata/Ant/H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya