Panglima TNI:Mahasiswa dan Sarjana Mesti Peduli Kondisi Perbatasan Indonesia
MI/Bay
27/4/2015 00:00
(Illustrasi Dok MI/Adam Dwi)
Permasalahan yang ada di wilayah perbatasan di Indonesia terutama terkait dengan kebijakan pemerintah harus terus menerus diperbaiki. Termasuk pentingnya perhatian kalangan terpelajar dan terdidik terhadap kondisi perbatasan di tanah air. "Kita berharap para mahasiswa dan sarjana kita dapat tumbuh kesadaran terkait masyarakat perbatasan yang kondisinya memperihatinkan, pendidikannya masih rendah, kesehatan belum terjangkau dengan baik.Nah,kita jangan hanya tahu Jakarta saja,"kata Panglima TNI Jendral Moeldoko dalam orasi ilmiah pada Wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia (STIAMI) ke-27, di Balai Samudera,Jakarta,belum lama ini.
Melalui rilis dari Humas STIAMI Jakarta,kepada pers,Senin malam (27/4),Panglima TNI mengingatkan pentingnya membangun wawasan agar wawasan nasional kalangan terdidik Indonesia menyentuh, semua lini terdepan tanah airnya. Moeldoko menyatakan dalam efektivitas kebijakan pengelolaan perbatasan di Indonesia ada empat driving force yang mempengaruhi skenario kawasan perbatasan ke depan.Yakni meliputi skenario perbatasan dalam bidang politik, pembangunan ekonomi, keamanan dan kesejahteran.
Menurut Moeldoko dengan tema yang disampaikan pada orasi ilmiah kali ini, wisudawan dapat memahami dan mengerti akan situasi di daerah perbatasan. Panglima TNI juga berpesan kepada wisudawan bahwa negara maju diisi orang-orang dengan kebutuhan akan prestasi yang kuat, yang dicirikan standar keunggulan dalam kerja, menyukai tantangan, mengambil tanggung jawab pribadi, disiplin, dan berani mengambil resiko. Ia berharap wisudawan mampu berinovasi. "Kalian harus segera menciptakan dan menyebarkan sesuatu yang baru beserta metode-metodenya untuk segera mendapatkan inovasi baru," tegasnya.
Ketua STIAMI, Dr. Panji Hendrarso, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan dan rasa syukurnya terhadap pencapaian STIAMI yang dari aspek mutu melalui akreditasi untuk seluruh program studi dan institusi. Menurunya,dari aspek kelembagaan, STIAMI mendapatkan persetujuan Menteri Riset, Teknnologi dan Pendidikan Tinggi untuk perubahan bentuk dari Sekolah Tinggi menjadi Institut Sosial dan Manajemen STIAMI (IISMI) dengan penambahan 4 (empat) Program Studi baru yaitu Manajemen Logistik (S1), Hospitality & Pariwisata (S1), Manajemen Komunikasi (S1), dan Akuntansi Bisnis (D4).
Yayasan Ilomata sebagai Badan Penyelenggara Pendidikan melalui ketuanya, Drs. Djaka Permana, P.hD menyampaikan perubahan bentuk kelembagaan dari sekolah tinggi menjadi institut merupakan bentuk kepercayaan pemerintah yang sangat baik kepada Yayasan Ilomata dan amanah pemerintah tersebut harus dijaga dengan baik. Sedangkan Koordinator Kopertis Wilayah III, Jakarta, Prof. Dr. Ilza Mayuni menyatakan harapan dan keinginan agar STIAMI dapat terus meningkatkan kualitasnya apalagi setelah berubah menjadi Institut.