KONSORSIUM Indonesia-Rusia menjadi pemenang lelang pradesain pembangunan reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). PLTN yang direncanakan berkapasitas 10 megawatt tersebut merupakan reaktor daya nonkomersial (RDNK) atau disebut juga reaktor daya eksperimental (RDE).
Penandatanganan kontrak pengerjaan proyek itu diperkirakan berlangsung pada akhir April ini.
Konsorsium itu terdiri dari beberapa perusahaan Indonesia, yaitu PT Rekayasa Engineering dan PT Kogas Driyap Konsultan, dan perusahaan Rusia Nukem Technologies GmbH, anak perusahaan Rosatom.
Rosatom ialah BUMN nuklir asal Rusia. Nukem dan beberapa perusahaan Rosatom lainnya akan mengerjakan desain reaktor dan jasa konsultasi.
Tim tersebut akan mengerjakan selama delapan bulan tahap pradesain, termasuk persiapan studi kelayakan untuk desain konseptual dan paket desain dasar.
Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistyo Wisnubroto ketika dikonfirmasikan tidak membatah informasi tersebut.
''Kerja sama dengan perusahaan asal Jerman yang dimiliki Rusia, Nukem, baru sebatas perencanaan desain atas reaktor nuklir jilid II yang hendak dibangun di Serpong, Banten,'' kata Djarot ketika dihubungi pada Sabtu (25/4).
Ia mengutarakan pembangunan PLTN tersebut bukanlah berupa pembangkit listrik tenaga nuklir yang selama ini dikira orang banyak.
''Bukan, bukan sama sekali. Jadi, masih terbatas pada pembangunan reaktor nuklir yang dapat menghasilkan listrik untuk keperluan riset di sana,'' katanya.
Jadi, tambah dia, PLTN itu hanya dimanfaatkan Batan dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai pusat penelitian.
Menurut dia, belum ada perjanjian dan kerja sama untuk pengadaan peralatan dan sarana lainnya. ''Masih berupa desain, tapi kami akan mengusahakan untuk mengajukan permohonan anggaran untuk pembangunan fisiknya apabila desainnya sudah final,'' jelas Djarot.
Persiapan Melalui siaran pers, persiapan dokumen tender dan koordinasi partisipasi Rosatom dalam proyek tersebut akan dikerjakan Private Institution Rusatom International Network (Rain), perusahaan pengelola Rosatom Asia yang berkedudukan di Singapura.
''Kami berhasil menyusun sebuah tim profesional berskala internasioanl dengan pengalaman yang kaya dalam teknologi nuklir. Kami siap untuk mengembangkan desain yang efisien dan aman yang akan menjadi pemimpin dalam program nuklir masa depan di Indonesia,'' kata Presiden Private Institution Rain, Alexander Marten.
Selain menang tender pradesain reaktor daya, Rusia menjadi pemasok pertama kobalt-60 (Co-60) sebagai sumber pengion untuk perusahaan Indonesia, Rel-Ion. Kobalt-60 itu akan dipasok JSC Isotope, anak perusahaan Rosatom.
Rel-Ion ialah perusahaan yang menyediakan layanan sterilisasi gama.
Cakupan layanan meliputi sterilisasi alat-alat medis desinfeksi wadah medis dan makanan, juga bahan baku untuk industri kosmetik. Dalam sterilisasi dengan unit sinar gama, bakteri dan mikroorganisme berbahaya lainnya dieliminasi sehingga produk olahan lebih aman dikonsumsi.(H-1)