Sherina Munaf Menerima Pembatasan sebagai Normal yang Baru

Bagus Pradana
24/4/2020 04:00
Sherina Munaf Menerima Pembatasan sebagai Normal yang Baru
Sherina Munaf(MI/Permana)

SAMA seperti banyak orang lainnya, Sherina Munaf sempat merasa jengah berdiam di rumah. Dalam perbincangan live Instagram di akun @milesfilms bertajuk Cabin Fever yang dipandu sutradara Riri Riza, kemarin, Sherina mengaku mengalami perubahan fase-fase emosi.

“Sejauh ini social distancing setiap minggu itu kayak beda fase gitu loh. Di awal masih yang kayak marahmarah, ‘Huh kenapa yang lain enggak social distancing, kenapa enggak kompak?’ Terus setiap kali baca berita bawaannya itu deg-degan,” tutur perempuan yang melejit lewat film Petualangan Sherina (2001) itu.

Sherina yang telah menghasilkan sedikitnya enam album dan bermain di dua film layar lebar itu merasa emosinya membaik di minggu kedua penerapan work from home (WFH). Namun, minggu berikutnya, putri mantan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf itu sempat merasa gelisah lagi.

“Minggu kedua mulai bisa menerima dan berusaha meyakini bahwa ini normal. Sampai akhirnya sekarang mulai bisa menerima, live goes on. Dan malah bagus gitu, ternyata menyibukkan diri dengan pekerjaan itu malah bisa enggak kepikiran gitu,” ungkap perempuan berusia 29 tahun itu.

Kini setelah bisa menerima peraturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebagai kehidupan normal yang baru, Sherina merasa sudah bisa menjalankan segala rutinitasnya dengan nyaman. Ia berolahraga dan menikmati hiburan di rumah. Sherina pun menjadi lebih akrab dengan kucing-kucingnya dan memiliki banyak waktu untuk mengerjakan berbagai hal di apartemennya.

Bagi perempuan yang mahir berbahasa Jepang itu, masa pandemi memang terasa seperti masa tunggu, namun bukan berarti diam. Bahkan bukan hanya tetap menjalani rutinitas, masyarakat juga bisa menggali kreativitas yang belum terpikir sebelumnya.

Selain itu Sherina berusaha melihat sisi positif pembatasan sosial terhadap kondisi lingkungan. Salah satunya ialah polusi kendaraan yang berkurang sehingga pemandangan kota lebih jelas.

“Kan aku tinggal di atas. Kalau misalnya polusinya lagi jelek banget, gedung-gedung itu enggak kelihatan. Tapi, akhir-akhir ini kelihatan banget gedung-gedung lain sampai di seberang sana jauh. Itu sih perubahan yang aku rasain paling kelihatan,” ujar pemeran Anggini di film Wiro Sableng 212 (2018) ini.

Di sisi lain, ada hal yang cukup dikangeninya dan sulit dipenuhi, yakni mendengarkan musik dan berimajinasi saat macet di jalanan. Baginya, saat terjebak macet menjadi saat untuk mengistirahatkan pikiran. 

“Salah satu hal yang aku agak kangen ialah kalau misalnya dulu harus muter-muter dan kena macet, buatku itu adalah waktu yang tepat buat mendengarkan lagu sih. Mendengarkan lagu, menatap keluar, dan mulai berimajinasi, kebiasaan itu yang aku rasa agak hilang sekarang,” ceritanya.


Vegetarian

Dalam obrolan itu Sherina juga mengungkapkan soal pilihannya sebagai vegetarian. Ia mengaku terpengaruh dari sang adik, Maura. Tidak hanya itu, Maura pula yang membangkitkan kepedulian Sherina pada lingkungan, khususnya penyelamatan satwa langka. 

“Jadi yang pertama mengawali ini semua ialah adikku, Maura. Soal orang utan itu juga Maura dulu. Dia yang aware terlebih dulu. Ketika ada kesempatan untuk ke Borneo (Kalimantan) bersama Maura, memang (aku) baru terbuka dengan isu apa yang ada. Kalau misalnya sekarang sudah mempunyai kesadaran itu, aku ingin sekali bisa mengajak orang lebih banyak untuk mendapatkan momen kesadaran seperti aku waktu itu, dengan cara yang sering aku omongin,” jelas Sherina.

Pada Februari lalu, bersama Borneo Orang Utan Survival Foundation, ia menanam pohon di pulau buatan yang diperuntukkan bagi habitat orang utan. Dalam kunjungan ke Samboja Lestari Lodge di Kalimantan Timur itu Sherina mengaku belajar banyak hal tentang ancaman kelestarian orang utan maupun permasalahan lingkungan yang lebih luas.

Hal itu membuatnya semakin berkomitmen untuk berupaya menjalankan gaya hidup ramah lingkungan. Baginya, salah satu caranya ialah dengan menjadi vegetarian. “Awalnya (vegetarian) itu karena aku enggak tega saja makan binatang. Cuma sekarang banyak sekali argumen yang menyebutkan, kalau kita lebih berorientasi ke makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan itu ternyata lebih bermanfaat bagi alam, mulai dari mengurangi banyak emisi dan segala macem gitu,” pungkasnya. (M-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya