Longsornya Desa Kami

Imam Khanafi Anggota pembentuk Forum Siswa Peduli Bencana (F-SPB) Desa Rahtawu Mahasiswa Sistem Informasi, Universitas Muria Kudus
26/4/2015 00:00
Longsornya Desa Kami
(DOK IMAM)
SAAT musim hujan datang, rasa waswas melanda Ayu Rismawati dan Ita Aryani, siswa SMPN 3 Satu Atap Rahtawu, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Bagi mereka, ancaman tanah longsor selalu mengancam ketika intensitas curah hujan tinggi. Di benak mereka telanjur tertanam, hujan lebat akan diikuti longsor.

Selain Ayu dan Ita, Nor Rohman, teman sekolah mereka, juga masih sulit menghilangkan bayangan tentang hujan dan ancaman bencana.

Pemicunya, bencana longsor yang terjadi di desa di kaki Gunung Rahtawu, Januari 2014.

"Yang selalu saya ingat ialah suara gemuruh air. Saat itu saya sedang sendirian di rumah. Ternyata itu adalah banjir bandang yang terjadi di Sungai Gelis, yang mengalir di desa kami. Menyusul, suara gemuruh bangunan roboh. Saat itu saya diam di kamar, tanpa berani keluar rumah. Sampai orang tua mengajak mengungsi karena rumah kami termasuk wilayah rawan longsor," kata Nor.

Jejak kerusakan
Akibat longsor, jalan utama di desa itu terputus, begitu pula jembatan yang menghubungkan ke Dukuh Semliro, rusak.

Pada bangunan, longsor meninggalkan jejak kerusakan pada satu musala roboh dan 15 rumah.

Satu orang tewas di Dukuh Wetankali, salah satu kampung di Desa Rahtawu.

Kisah kelam akibat bencana itu diceritakan mereka dalam Forum Siswa Peduli Bencana (FSPB), Sabtu, 14 Maret 2015 di SMPN 3 Satu Atap.

Forum ini dibentuk pascapelatihan mitigasi bencana pada kalangan remaja. Penyelenggaranya, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMBM), dibiayai Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti).

Tim PKM-M, beranggotakan mahasiswa Universitas Muria Kudus, melibatkan jurusan psikologi, sistem informasi serta teknik informatika.

Dari kampus ke sekolah
Acara pembentukan forum dimulai dengan memberikan pemahaman tentang pentingnya pengetahuan bencana di daerah rawan bencana.

Setelah itu, para pelajar itu dilatih kesiapsiagaan bencana yang bisa diaplikasikan di kehidupan sehari-hari serta upaya menjaga sungai.

Targetnya, mereka bukan cuma menerima materi, tetapi bisa terus mengembangkan pemahaman dan keterampilannya dalam menanggulangi bencana.

"Agar siaga bencana jadi bagian dari budaya masyarakat Rahtawu. Masyarakat dapat menggunakan kemampuannya sendiri dalam menyelamatkan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya. Itu bisa kita mulai sejak sekarang, ketika mereka masih muda," jelas Miratus Saadah, Ketua Program FSPB.

Aida Mustofa, Wakil Kepala SMPN 3 Satu Atap Rahtawu, berharap peserta FSPB bisa menjadi contoh bagi kawan-kawannya.

"Anak-anak ini adalah penerus dari orang tuanya dan kesadaran lingkungan perlu diterapkan sejak remaja, seperti sekarang ini," jelasnya.

Vena Rofiana, Ketua OSIS SMPN 3 Satu Atap, menyambut baik forum ini.

"Walau terkadang ada yang bilang kalau bencana tak bisa dihindari, tapi sekarang kita jadi lebih tahu sehingga bisa mengurangi dampaknya," kata Vena. (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya