ARENA bermain itu menyediakan kuda-kudaan karet, perosotan, juga balok untuk disusun.
Namun, ini bukan di sebuah taman, melainkan di lantai empat Jakarta Eye Center (JEC) Kedoya, Jakarta Barat, di dekat ruang periksa dokter mata.
Lalu mengapa disediakan arena bermain di sana?
Ya, karena ternyata banyak kawan Medi yang periksa mata di sini!
Salah satunya Sani, siswa kelas 2 SD Alam Kudus, yang Medi temui di sana pada Rabu (22/4) siang.
Ia merasa jadi lebih nyaman di sana.
"Aku jadi nggak takut diajak mamah ke sini," kata Sani kepada Medi. Penyebab gangguan Karena penasaran mengapa sekarang lebih banyak anak harus berjumpa dokter mata serta makin sering melihat anak-anak berkacamata, Medi menemui dr Florence Meilani Manurung SpM, salah satu dokter spesialis mata yang banyak memeriksa pasien anak-anak di JEC.
Menurut dokter Flo, begitu ia biasa disapa, gangguan mata yang akhirnya membuat anak-anak harus memakai kacamata bisa disebabkan faktor genetik atau keturunan serta gaya hidup.
"Jika salah satu orangtuanya memakai kacamata, biasanya anak pun akan mengalami hal yang sama, atau bisa juga karena gaya hidup yang dekat dengan teknologi, seperti televisi dan handphone," kata dokter Flo.
Pernyataan dokter Flo itu dibenarkan oleh Bu Dewi, tante Sani dan Sania saat mengantar mereka memeriksa mata. Minus, plus, dan silinder Lalu, apa sih bedanya istilah minus, plus, dan silinder.
Istilah-istilah itu sering kita dengar pada berbagai jenis gangguan mata.
Minus, kata dokter Flo, adalah rabun jauh, artinya tidak dapat melihat objek yang jauh secara jelas.
Plus adalah kebalikannya, gangguan pada mata yang menyebabkan tidak bisa melihat jelas objek yang dekat.
Adapun silinder merupakan kelainan sejak lahir.
"Anak-anak kebanyakan akan mengalami gangguan mata minus karena sering melihat dalam jarak dekat, sedangkan silinder karena faktor keturunan, sama seperti bentuk hidung, rambut ikal, dan sebagainya yang Tuhan berikan pada kita," kata dokter Flo.
Bentuk kornea pada mata silinder runcing, tak sama dengan kornea mata normal dan minus atau plus yang cembung.
Bentuk bola mata Sobat, tahukah kalian jika bentuk bola mata bisa berubah?
Bentuk bola mata yang normal atau tak memiliki gangguan apa pun ialah bulat sempurna.
Namun, bola mata yang mengalami rabun jauh atau minus berbentuk lonjong atau oval.
Dalam masa pertumbuhan atau sebelum 17 tahun seperti kalian, dinding mata masih lembek.
Berbeda dengan orang yang sudah melewati masa pertumbuhan, dinding matanya akan lebih keras.
Saat melakukan aktivitas di depan gadget yang jaraknya dekat, otot yang ada di luar bola mata akan berkontraksi sehingga otot akan mencengkeram bola mata lebih kuat.
"Karena dinding bola mata orang dewasa sudah keras, maka saat berkontraksi, matanya akan merasa lelah, sehingga orang dewasa hanya perlu beristirahat sejenak. Namun, berbeda dengan anak-anak yang masih lembek, saat ototnya berkontraksi, mata anak tidak akan mengalami kelelahan, tapi ototnya malah mencengkeram dan membuat bola matanya berbentuk oval," jelas dokter Flo. Nah ini yang membuat anak-anak rentan mengalami gangguan mata.
Tak bisa sembuh total Agar mata kalian tetap sehat, atau ketika sudah pakai kacamata, tingkat gangguannya tidak bertambah parah, dokter Flo menyarankan agar menghindari bermain gadget, membaca buku serta melihat TV dari jarak dekat dengan durasi yang lama atau dengan cahaya yang kurang.
Jika mata kalian sudah terkena gangguan, tidak akan bisa sembuh. "Mata minus, plus, ataupun silinder tidak akan sembuh.
Jika pun dengan memakan sayuran dan buah, itu hanya akan menajamkan pandangan mata," kata dokter Flo. Solusinya kacamata Jadi, jika kamu merasakan ada masalah dengan pandangan mata, misalnya kesulitan saat melihat tulisan guru di papan tulis, jangan ragu bicarakan dengan orangtua untuk mengantar kamu periksa ke dokter mata.
Jangan sampai dibiarkan hingga gangguannya terus meningkat dan mengganggu aktivitasmu.
Jika dokter kemudian menyarankan kamu pakai kacamata, jangan ragu untuk memakainya, ya!
Selain membuat pandanganmu lebih jelas, kacamata akan mencegah bertambahnya gangguan pada matamu. Kamu tak perlu minder atau malu karena semua aktivitas masih bisa kamu lakukan, termasuk saat berolahraga.
"Ini semua demi kebaikan mata kalian, jadi tak perlu malu. Tapi bukan berarti pakai kacamata adalah tren, ya, kalian harus tetap menjaga kesehatan mata sejak dini," kata dokter Flo.
Selain kacamata, sebenarnya ada penanganan lain untuk mengatasi gangguan mata, yaitu lensa kontak dan lasik. Namun pilihan tersebut belum cocok untuk anak-anak.
"Yang aman untuk anak-anak hanya pakai kacamata. Pemakaian lensa kontak, jika tidak bersih, akan mengakibatkan iritasi. Lasik pun hanya bisa dilakukan pada orang dewasa," kata dokter Flo.