Berdonor Menyambung Kehidupan

Her/UL/*/M-5
26/4/2015 00:00
Berdonor Menyambung Kehidupan
Sejumlah anak-anak penderita talasemia tengah melakukan transfusi darah di RS. Cipto Mangunkusomo, Jakarta.(MI/SUMARYANTO)

DEKORASI tokoh kartun dan animasi menghias dinding ruang khusus talasemia anak Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM). Di depannya, beberapa anak tampak menunggu giliran untuk melakukan transfusi darah. Rutinitas itu sudah mereka lakukan bertahun-tahun.

Di salah satu sudut itu, Ulfa Fauziah, 20, duduk sendiri memangku kotak berisi kantong darah. Ulfa terdeteksi mengidap talasemia ketika berusia 17 tahun. Sejak tiga tahun lalu, aroma obat-obatan rumah sakit dan dekorasi bagian talasemia anak sudah tak lagi asing baginya.

"Waktu pertama, transfusi dua bulan sekali, tapi sejak tahu darahnya resus menjadi dua minggu sekali. Soalnya darahnya enggak tahan lama. Akan tetapi, kalau lagi malas, pernah jadi tiga minggu. Untung darah aku selalu ada di PMI, jadi enggak kesulitan," kata dia.

Talasemia ialah kelainan darah genetik yang belum ada obatnya. Satu-satunya pengobatan yang dapat dilakukan ialah transfusi darah seumur hidup. Karena itu, ketersediaan darah sangat vital bagi kelangsungan hidup mereka.

Selain penderita talasemia, ketersediaan darah sangat penting bagi kelompok lain seperti penderita hemofilia, mereka yang mengalami gagal ginjal, ibu hamil yang kekurangan darah, dan kasus-kasus lain seperti demam berdarah.

Ketersediaan darah itu hanya bisa dicukupi dari para donor. Namun, kesadaran masyarakat untuk mendonorkan darah mereka masih terbilang rendah.

Di Majalengka, Jawa Barat, seperti diakui Bupati Majalengka Sutrisno, suplai darah di kotanya saat ini masih jauh dari harapan. Karena itu, Palang Merah Indonesia (PMI) Majalengka sampai harus mencari donor ke daerah sekitar seperti Bandung.

Kepala Bidang Penyediaan Darah Palang Merah Indonesia Pusat Ulfah Suryani tidak menampik bahwa secara umum, jumlah donor di Tanah Air masih jauh dari ideal. Yang dibutuhkan 2% dari jumlah penduduk atau sekitar 4,8 juta kantong per tahun. "Sekarang hanya 2,5 juta kantong whole blood per tahun," ungkapnya, Senin (20/4).



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya